Logo Bloomberg Technoz

Bursa saham Asia lainnya justru melesat tinggi. SETI (Thailand), KOSPI (Korea), KOSDAQ (Korea), Hang Seng (Hong Kong), Weighted Index (Taiwan), KLCI (Malaysia), Straits Time (Singapura), PSEi (Filipina), NIKKEI 225 (Tokyo), CSI300 (China), SENSEX (India), TOPIX (Jepang), dan Shanghai Composite (China), yang berhasil menguat pagi hari ini.

Sentimen yang mengobarkan IHSG siang hari ini datang dari pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali menembus level Rp16.800/US$, di tengah–tengah terpilihnya Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru, Thomas Djiwandono. 

Deputi Gubernur baru mengungguli dua kandidat lainnya yang merupakan pejabat karir di BI: Dicky Kartikoyono, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, dan Solikin M. Juhro, Kepala departemen Kebijakan Makroprudensial BI. Thomas merupakan satu-satunya kandidat yang bukan berasal dari Bank Sentral.

Pria dengan nama lengkap Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono tersebut saat ini masih menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan di Kabinet Merah Putih era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pada pagi hari ini, US$ 1 setara dengan Rp 16.808 pada perdagangan pasar spot. Mata uang Tanah Air terdepresiasi 0,17% dibanding hari sebelumnya.

Lesunya nilai tukar rupiah tersebut sekaligus mematahkan rekor penguatan rupiah yang telah berlangsung empat hari berturut–turut.

Di samping itu, ketidakpastian geopolitik dan perdagangan tetap menjadi sorotan investor. Menyitir riset Phillip Sekuritas Indonesia, Presiden AS Donald Trump mengatakan, tarif atas produk–produk asal Korea Selatan, termasuk mobil, obat-obatan, dan kayu, akan dinaikkan menjadi 25% dari sebelumnya 15%.

Presiden Trump menyebutkan penundaan dalam persetujuan legislatif Korea Selatan terhadap perjanjian perdagangan yang dicapai dengan AS pertengahan tahun lalu sebagai alasan untuk menaikkan tarif.

“Sebelumnya, Presiden Trump mengancam akan mengenakan tarif 100% untuk barang-barang asal Kanada jika negara itu menandatangani perjanjian perdagangan dengan Tiongkok,” papar Philip dalam riset hariannya.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan, Kanada tidak berniat untuk mengejar perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) dengan Tiongkok dan menghormati kewajibannya berdasarkan perjanjian perdagangan Kanada–AS–Meksiko.

(fad/aji)

No more pages