Di BEI, terdapat sejumlah emiten terkait emas. Mereka adalah PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT J Resources Indonesia Tbk (PSAB), dan PT Medco Energy Tbk (MEDC).
Pada jeda perdagangan Sesi I, berikut laju saham emiten-emiten tersebut, Senin.
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menguat 17,41% di posisi Rp7.250
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melejit 12,82% ke posisi Rp4.840
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melesat 6,44% ke posisi Rp2.480
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melejit 5,21% ke posisi Rp1.315
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menguat 4,91% ke posisi Rp2.030
- PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) melesat 4,04% di posisi Rp645
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 2,42% ke posisi Rp3.380
- PT Medco Energy Tbk (MEDC) menguat 2,31% ke posisi Rp1.550
Sentimen Pendorong Harga Emas
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, langkah-langkah pemerintahan Trump — serangan terhadap independensi Federal Reserve, ancaman penguasaan Greenland, serta intervensi militer di Venezuela — turut mengguncang pasar.
Bagi investor yang mencoba menavigasi ketidakpastian ini, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai jarang terlihat setinggi sekarang.
“Emas adalah kebalikan dari kepercayaan,” kata Max Belmont, Manajer Portofolio di First Eagle Investment Management.
“Ini adalah lindung nilai terhadap lonjakan inflasi yang tak terduga, penurunan pasar yang tak terantisipasi, serta memanasnya risiko geopolitik.”
Harga emas saat ini, secara lebih luas, datang dari kecemasan investor yang meningkat terhadap tekanan yang dihadapi Bank Sentral Federal Reserve. Investor menanti pilihan Trump untuk Gubernur The Fed berikutnya setelah Presiden AS mengatakan telah menyelesaikan interviu kandidat dan menegaskan sudah memiliki sosok dalam pikirannya.
Gubernur yang lebih dovish akan meningkatkan spekulasi pemangkasan suku bunga lanjutan tahun ini — kabar positif bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil — setelah tiga kali penurunan berturut-turut.
Secara teknikal, emas sejatinya berpeluang naik lebih tinggi lagi, di zona bullish. Tercermin dari chart Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 84. RSI di atas 50 sinyal suatu aset sedang dalam posisi bullish.
Adapun target kenaikan terdekat harga emas ada di US$5.084/troy ons. Jika berhasil break, maka ada kemungkinan harga emas naik lagi menuju US$5.118/troy ons. Sementara support nya saat ini adalah US$4.957/troy ons.
Goldman Sachs Group Inc. pun turut memasang posisi bullish terhadap emas. Dalam proyeksi terbarunya, Goldman Sachs memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$5.400/troy ons pada Desember 2026. Jauh lebih optimistis dari riset sebelumnya yang ditargetkan mencapai US$4.900/troy ons.
(fad)


























