Kapasitas LNG baru yang mulai beroperasi di Amerika Utara menjadi pendorong terbesar dari kenaikan global tersebut, mendorong pertumbuhan pasokan LNG global ke level dua digit pada paruh kedua 2025 serta berkontribusi pada penurunan harga spot di Eropa dan Asia.
Di sisi lain, pelonggaran fundamental pasokan diperkirakan akan mendorong pertumbuhan permintaan gas global yang lebih kuat, yang terutama didorong oleh China dan pasar Asia berkembang.
Permintaan gas alam di kawasan Asia Pasifik diperkirakan meningkat sebesar 4% pada 2026, mencakup sekitar setengah dari total pertumbuhan permintaan gas global.
Permintaan gas alam diproyeksikan relatif stagnan di Amerika Utara, dan diperkirakan turun sebesar 1% di Amerika Tengah dan Selatan seiring membaiknya pembangkit listrik tenaga air.
“Namun demikian, berbagai faktor risiko masih ada—termasuk ketegangan geopolitik dan kondisi cuaca—sebagaimana ditunjukkan oleh volatilitas pasar gas alam pada awal 2026,” kata dia.
Di Eropa, ekspansi energi terbarukan yang berkelanjutan diperkirakan akan menurunkan permintaan gas sebesar 2%. Di kawasan Eurasia, konsumsi gas diperkirakan meningkat sebesar 3,5% dengan asumsi kembalinya kondisi cuaca ke tingkat rata-rata.
Sementara itu, permintaan gas di Afrika dan Timur Tengah secara gabungan diperkirakan meningkat sebesar 3,5%, seiring meningkatnya penggunaan gas di sektor industri dan ketenagalistrikan.
(naw)






























