"Ada juga kebutuhan valas [valuta asing] yang besar dari sejumlah korporasi, terutama Pertamina, PLN dan Danantara," tutur Perry.
Dari sisi domestik, Perry melanjutkan, pelemahan juga terjadi akibat adanya persepsi pasar soal kondisi fiskal dalam negeri, termasuk salah satunya terkait kabar soal proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia yang beredar belakangan ini.
Hal ini berkaitan dengan rencana Presiden Prabowo Subianto yang mengajukan keponakannya, Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri.
Thomas sendiri saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Kebingungan Pemerintah
Sementara, dari sisi pemerintah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru mengungkapkan kebingungannya soal tren pelemahan rupiah yang terjadi.
Purbaya beralasan, pelemahan rupiah tersebut lantaran terjadi ditengah derasnya arus modal asing di pasar saham dalam negeri, serta cadangan devisa (cadev) yang masih cukup tinggi.
"Tanya saja ke bank sentral apa yang terjadi. Ketika capital inflow masuk ke sini besar, kenapa rupiahnya melemah? Coba tanya mereka deh, karena saya tidak bisa intervensi untuk kebijakan nilai tukar," ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (20/1/2026). lalu.
Apalagi, dia juga meyakini kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai sangat cukup kuat, dan diproyeksi akan mengalami pertumbuhan cepat ke depan.
Dengan kondisi tersebut, dia pun optimistis rupiah dalam waktu dekat akan kembali menguat, seiring langkah penguatan fondasi ekonomi Tanah Air yang saat ini juga tengah dilakukan oleh pemerintah.
"Tidak ada alasan rupiah melemah ketika modal masuk ke sini," kata dia. "Fondasi ekonomi kita arahnya berlawanan dengan nilai tukar pada saat ini."
(ibn)




























