Logo Bloomberg Technoz

BI Vs Pemerintah Soal Rupiah Lemah: Geopolitik hingga Net Outflow

Sultan Ibnu Affan
23 January 2026 11:50

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Bank Indonesia (BI) kembali menjelaskan soal sejumlah penyebab terjadinya pelemahan rupiah belakangan ini yang sempat menyentuh all time low.

Pihak BI sebagai otoritas moneter memandang pelemahan itu terjadi lantaran masih adanya faktor geopolitik global terbaru, termasuk masih berlanjutnya rezim tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).

"Juga tingginya imbal hasil obligasi AS atau yield US Treasury untuk tenor 2 tahun dan 3 tahun, juga lebih rendahnya Fed Fund Rate (FFR) turun lebih kecil," ujar Gubernur Perry Warjiyo dalam konferensi pers, baru-baru ini.


Situasi itu, kata Perry, menyebabkan dolar AS menguat dan terjadi aliran modal keluar dari negara berkembang seperti Indonesia, ke negara maju, terutama AS.

Di Indonesia, BI mencatat juga telah terjadi net outflow atau aliran modal asing keluar bersih mencapai sebesar US$1,6 miliar berdasarkan data per 19 Januari 2026.