Logo Bloomberg Technoz

Bursa Asia Bersiap Bangkit Usai Trump Klaim Kesepakatan Greenland

News
22 January 2026 06:45

Bursa Asia (Sumber: Bloomberg)
Bursa Asia (Sumber: Bloomberg)

Toby Alder - Bloomberg News

Bloomberg, Bursa saham Asia diprediksi akan memutus tren penurunan tiga hari berturut-turut pada perdagangan Kamis (22/1). Sentimen ini muncul setelah Wall Street ditutup menguat merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim telah mencapai kerangka kesepakatan dengan NATO terkait isu Greenland.

Kontrak berjangka (futures) indeks saham Jepang, Hong Kong, dan Australia seluruhnya menguat setelah saham-saham di AS melonjak karena indikasi bahwa tarif baru tidak akan diberlakukan. Indeks S&P 500 naik 1,2%, menghapus kerugian sepanjang tahun ini, sementara indeks perusahaan China yang tercatat di AS naik 2,2%. Imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun turun ke level 4,24%, sementara lelang obligasi tenor 20 tahun senilai USD 13 miliar mencatat permintaan yang solid. Di sisi lain, nilai tukar dolar AS terpantau fluktuatif.


Di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos, Trump menyatakan tidak akan menggunakan kekuatan militer atau memaksakan negosiasi, serta akan menahan diri dari pengenaan tarif terhadap negara-negara Eropa. Pernyataan ini menghidupkan kembali minat investor terhadap aset berisiko karena dianggap sebagai sinyal meredanya ketegangan geopolitik dan dagang.

"Kerangka kesepakatan Greenland ini menurunkan tensi pasar secara signifikan dibandingkan kejadian akhir pekan lalu. Pengurangan ancaman tarif jelas merupakan katalis positif bagi pasar," ujar Joe Gilbert, manajer portofolio di Integrity Asset Management. "Tampaknya aksi saling gertak ini telah berakhir untuk sementara waktu, dan ini sangat konstruktif bagi pasar."

Grafik S&P 500. (Sumber: Bloomberg)