Logo Bloomberg Technoz

Wisnu juga memastikan keterlambatan penerbitan Rencana kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang saat ini terjadi tak memengaruhi kedua proyek tersebut, sebab kedua smelter tersebut belum berproduksi.

“Terkait dengan RKAB, dapat kami sampaikan bahwa saat ini tidak terdapat dampak langsung terhadap proyek RKEF maupun proyek HPAL yang dikembangkan bersama CATL,” tegasnya.

Adapun, investasi CATL dilakukan lewat Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL), usaha patungan bersama dengan Brunp dan Lygend. Dua perusahaan yang disebut terakhir punya keahlian pada pembuatan bahan baku baterai kendaraan listrik.

Sebelumnya, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Arianto S. Rudjito mengatakan perseroan bersama dengan CBL saat ini tengah memasuki tahap akhir pembahasan FID untuk segera mengesekusi proyek dengan nilai investasi US$1,9 miliar atau sekitar Rp31,12 triliun (asumsi kurs Rp16.380 per dolar AS).

“Status dari proyek saat ini, kami bersama dengan konsorsium CBL sedang memfinalisasi assesment FID,” kata Arianto saat public expose, Jumat (12/9/2025).

Arianto mengatakan investasi awal untuk proyek HPAL akan dilakukan akhir tahun 2025 atau awal 2026 untuk pemilihan pemilihan kontraktor engineering, procurement, and construction (EPC) proyek.

“Untuk proyek ini terjadwal konstruksi terselesaikan sekitar 2028 dan dilanjutkan dengan commisioning pada tahun yang sama,” kata dia.

Adapun, Antam memegang 30% saham pada proyek HPAL bersama dengan konsorsium CBL tersebut. Smelter HPAL itu dirancang untuk menghasilkan 55.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun.

Ihwal proyek smelter RKEF, Arianto sempat menyatakan perusahaan bersama dengan CBL tengah merampungkan pemilihan kontraktor EPC  proyek. Arianto berharap proses itu bisa selesai untuk selanjutnya memasuki tahap konstruksi akhir September 2025.

Proyek dengan nilai investasi mencapai US$1,4 miliar itu ditargetkan beroperasi pada 2027 mendatang. Adapun, kapasitas pabrik mencapai 88.000 ton nickel pig iron (NPI) per tahun.

ANTM memegang 40% saham pada usaha patungan yang dibentuk bersama dengan CBL yang mengendalikan smelter itu, PT Feni Haltim (FHT).

Kedua proyek smelter itu menjadi bagian dari investasi integrasi CBL bersama dengan Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan kode proyek Dragon.

Investasi terintegarasi dari sisi hulu tambang ke perakitan baterai listrik itu diperkirakan bakal menelan investasi mencapai RpUS$6 miliar atau sekitar Rp96 triliun.

IBC bersama dengan konsorsium CBL telah menandatangani sejumlah usaha patungan atau joint venture (JV) pada beberapa tahap bisnis baterai EV itu dari sisi hulu atau upstream tambang nikel, antara atau midstream, sampai hilir atau downstream berupa pabrik sel baterai.

Di sisi hulu tambang turut terbentuk usaha patungan antara Antam bersama dengan konsorsium CBL lewat PT Sumber Daya Arindo (SDA). Antam memegang 51% saham sementara sisanya dipegang afiliasi CBL, Hongkong CBL Limited (HKCBL).

Adapun, usaha patungan lainnya dikerjakan IBC bersama dengan CBL meliputi bahan baku baterai, perakitan sel baterai hingga daur ulang. IBC cenderung memiliki saham minoritas pada lini kerja sama midstream sampai hilir ini.

IBC memegang saham 30% untuk proyek pengolahan bahan baku baterai dan perakitan sel baterai. Sementara itu, IBC mendapat bagian 40% saham untuk usaha patungan di sisi daur ulang baterai.

(azr/wdh)

No more pages