Di sisi lain, mayoritas indeks saham di kawasan Asia ditutup melemah pada perdagangan yang sama. Pelemahan dipicu oleh sentimen negatif dari meningkatnya ketegangan politik di Greenland, serta respons pasar terhadap data ekonomi Tiongkok.
Ekonomi China tercatat tumbuh 4,5% secara tahunan pada kuartal terakhir di 2025, melambat dibandingkan pertumbuhan 4,8% pada kuartal sebelumnya dan menjadi laju pertumbuhan terendah dalam tiga tahun terakhir.
Penjualan ritel China pada Desember 2025 juga melambat menjadi 0,9% secara tahunan dari 1,3% pada bulan sebelumnya. Sementara itu, produksi industri justru meningkat menjadi 5,2% secara tahunan dari sebelumnya 4,8%.
Tekanan pasar global juga terlihat di kawasan Eropa, di mana indeks saham dibuka melemah seiring pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan menaikkan tarif terhadap produk dari delapan negara anggota NATO apabila menentang rencana akuisisi Greenland. Sejalan dengan itu, indeks futures Wall Street turut bergerak di zona negatif.
Untuk perdagangan Selasa (20/1/2026), saham-saham yang menjadi pilihan utama berdasarkan riset antara lain PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Indointernet Tbk (INET), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).




























