Logo Bloomberg Technoz

Dirinya lantas beranggapan bahwa membingkai AI sebagai ancaman eksistensial atau menyamakannya dengan skenario fiksi ilmiah tak membantu pemerintah, pekerja, atau perusahaan teknologi dalam mengatasi tantangan realistis. Sebaliknya, Hwang menyarankan agar fokus tetap pada aplikasi praktis di mana kecerdasan buatan bisa meningkatkan produktivitas manusia, daripada menyebarkan ketakutan terkait kecerdasan hipotetis setingkat dewa.

Lalu, dia menyoroti beberapa cara nyata bagaimana AI dapat diterapkan secara bertanggung jawab. Contohnya, kecerdasan buatan dan robot bisa membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja, berfungsi seperti “imigran AI” yang mendukung industri tengah kesulitan mencari pekerja.

Hwang memandang bahwa AI sebagai pelengkap alat produktivitas, menawarkan kemampuan yang meningkatkan hasil dan efisiensi manusia, bukan menggantikannya secara penuh. Terlepas dari potensi manfaat tersebut, laporan dari Universitas Stanford dan Fortune memperlihatkan bahwa kecerdasan buatan memiliki dampak terbatas pada daftar lowongan pekerjaan selama beberapa tahun terakhir.

Tak hanya itu, banyak tool AI yang hanya menghasilkan sedikit dampak terukur terhadap operasional bisnis atau kinerja keuangan. Huang menegaskan, dirinya tak menginginkan adanya AI setingkat dewa dan menyebut konsep sistem tunggal yang monolitik dan dikendalikan oleh perusahaan, negara, atau entitas lain adalah hal yang amat tidak membantu.

Dirinya menekankan industri teknologi harus fokus pada peningkatan bertahap yang bermanfaat bagi manusia saat ini. Bahkan ketika perusahaan seperti Meta—perusahaan induk Facebook, WhatsApp, dan Instagram—memperluas infrastruktur AI secara global, membangun pusat data besar yang ditenagai oleh energi nuklir. Huang menegaskan bahwa pengembangan yang bertanggung jawab dan harapan yang realistis lebih penting daripada sensasi.

(wep)

No more pages