Jelang Rebalancing MSCI, Kandidat Terkuat hingga Potensi Inflow
Recha Tiara Dermawan
19 January 2026 09:55

Bloomberg Technoz, Jakarta - Morgan Stanley Capital International (MSCI) menerapkan kebijakan sementara dalam metodologi perhitungan indeks yang akan berlaku hingga Mei 2026. Kebijakan ini menjadi faktor penting dalam peninjauan ulang (rebalancing) indeks MSCI Februari 2026, yang berpotensi memengaruhi peluang masuk dan keluar sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dalam rangkuman Verdhana Sekuritas, MSCI menetapkan penguncian bobot terhadap saham-saham yang telah tercatat di dalam indeks selama periode kebijakan berlangsung. Artinya, tidak akan ada penyesuaian bobot, baik kenaikan maupun penurunan, meskipun terjadi aksi korporasi atau pembaruan data publik.
Selain itu, MSCI menerapkan metodologi yang lebih konservatif terhadap saham-saham baru yang akan masuk ke dalam indeks. Saham baru akan memperoleh bobot awal yang relatif lebih kecil dibandingkan metode sebelumnya, seiring penggunaan asumsi free float yang lebih rendah berdasarkan estimasi data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
MSCI juga menerapkan pendekatan lebih ketat dalam perhitungan Foreign Inclusion Factor (FIF), yaitu faktor penyesuaian yang mencerminkan porsi saham yang dapat dimiliki investor asing. Penurunan FIF berpotensi memperkecil bobot saham di dalam indeks dan memicu penyesuaian portofolio oleh dana berbasis indeks. Kebijakan sementara ini ditujukan untuk menjaga stabilitas pasar dan menekan potensi lonjakan transaksi sebelum metodologi final diberlakukan secara penuh.
Di tengah kebijakan tersebut, sejumlah emiten besar di Bursa Efek Indonesia dinilai berpeluang masuk ke dalam indeks MSCI Indonesia Global Standard pada periode peninjauan Februari 2026. Emiten terafiliasi Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk (PTRO), menjadi salah satu kandidat yang paling banyak disorot karena berpotensi masuk MSCI secara bersamaan dengan FTSE Russell.





























