“Tingkat kematian-nya rendah sekali. Jadi tidak perlu takut, yang penting diobati,” ujarnya.
Saat ini, pengobatan kusta sudah tersedia dan efektif. Terapi diberikan selama 6 hingga 12 bulan , dan pasien dapat sembuh total jika rutin menjalani pengobatan. “Kusta itu bisa diterapi. Kalau diobati, kok bisa disembuhkan,” tegas Budi.
Budi mengungkapkan, setiap tahun masih ditemukan sekitar 1.873 kasus kusta baru di Indonesia. Secara total, jumlah penderita kusta di Tanah Air diperkirakan mencapai 13.000 hingga 15.000 orang, bahkan bisa lebih banyak karena belum semuanya terdeteksi.
Untuk itu, Kementerian Kesehatan mulai tahun ini memasukkan skrining kusta ke dalam program pemeriksaan kesehatan. “Kita tinggal ubah sedikit isinya, tadinya belum ada skrining lepra. Sekarang kita masukin skrining lepra mulai tahun ini,” kata Budi di Jakarta, Kamis.
Pemerintah juga mendorong skrining kusta secara masif dengan memberikan penghargaan kepada kepala daerah dan puskesmas yang aktif menemukan dan menangani kasus kusta. Langkah ini diambil agar penderita dapat segera diobati dan tidak menimbulkan dampak sosial akibat stigma.
Menkes pun mengajak masyarakat untuk membantu menyebarkan informasi yang benar. “Tolong bantu sampaikan bahwa kusta bukan kutukan, bukan penyakit keturunan, sulit menular, dan bisa disembuhkan. Jangan dikucilkan, cukup diobati,” tutupnya.
(dec/del)





























