Pernyataan Departemen Perdagangan AS yang menguraikan kesepakatan tersebut tidak secara spesifik menyebut TSMC, namun pengaturannya jelas berdampak besar bagi perusahaan itu, yang merupakan produsen cip AI terbesar di dunia. Lutnick mengatakan dalam wawancara dengan CNBC bahwa ia memperkirakan perusahaan tersebut “akan masuk dalam skala besar, bahkan lebih besar—Anda telah melihat laporan tentang kemungkinan menggandakan ukurannya.”
Kesepakatan itu juga menyerukan TSMC untuk membangun setidaknya empat pabrik manufaktur cip tambahan di Arizona, menurut seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut. Jumlah itu menambah enam pabrik dan dua fasilitas pengemasan canggih yang sebelumnya telah dijanjikan untuk dibuka di negara bagian tersebut.
AS juga menyatakan akan meningkatkan investasi di sejumlah industri utama Taiwan, termasuk semikonduktor, AI, pertahanan, dan bioteknologi, menurut pernyataan kabinet di Taipei.
TSMC dan perusahaan lain akan memimpin rencana investasi US$250 miliar tersebut, kata para pejabat Departemen Perdagangan yang mengetahui rinciannya. Lutnick dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer memimpin perundingan kesepakatan ini, menurut para pejabat tersebut.
Lutnick mengatakan kepada CNBC bahwa jaminan kredit tersebut terutama akan menguntungkan perusahaan kecil dan menengah Taiwan yang membangun fasilitas di AS. Ia mengindikasikan Taiwan membuat konsesi itu karena sempat diancam akan dikenai tarif sangat tinggi atas barang-barangnya.
“Jika mereka tidak membangun di Amerika, tarifnya kemungkinan 100%,” ujar Lutnick. “Jika mereka berkomitmen membangun di Amerika, mereka dapat memasukkan semikonduktor mereka selama masa pembangunan tanpa tarif.”
Kesepakatan ini menghilangkan salah satu sumber ketegangan utama antara demokrasi berpenduduk 23 juta jiwa—yang ingin dikuasai China—dan AS, sebagai pendukung militer utama Taipei. Para pejabat Taiwan selama berbulan-bulan menyatakan bahwa kesepakatan hampir tercapai, namun tak pernah terwujud hingga kini. Pengumuman ini disampaikan tak lama setelah delegasi pejabat tinggi Taiwan mengunjungi Washington untuk memfinalisasi perjanjian dengan perwakilan Presiden Donald Trump.
Kerangka kesepakatan tersebut juga membatasi tarif sektoral AS atas suku cadang otomotif, kayu, papan, dan produk turunan kayu asal Taiwan pada level 15%. Obat generik yang diproduksi di pulau itu tidak akan dikenai pajak impor, menurut pernyataan Departemen Perdagangan.
Selain itu, semikonduktor Taiwan akan mendapatkan keringanan dari tarif di masa depan. Perusahaan yang membangun operasi baru di AS dapat mengimpor hingga 2,5 kali kapasitas saat ini tanpa tarif selama masa konstruksi, dengan tarif yang lebih rendah diterapkan untuk pengiriman di atas kuota tersebut. Batas itu akan diturunkan menjadi 1,5 kali kapasitas saat ini setelah fasilitas produksi rampung.
Departemen Perdagangan menyelesaikan penyelidikan yang menemukan bahwa impor cip merugikan keamanan nasional AS, namun menunda penerapan tarif yang lebih luas. Trump justru memerintahkan para pejabat senior pemerintahannya untuk menegosiasikan pengaturan dengan eksportir utama. AS hanya menerapkan bea sebesar 25% pada sejumlah semikonduktor canggih tertentu yang akan dikirim ke luar negeri, sebuah langkah kunci dalam kesepakatan agar Nvidia Corp dapat mengirim prosesor AI H200 buatan Taiwan ke China.
Taipei berupaya menuntaskan kesepakatan dengan AS sebelum Trump bertemu Presiden China Xi Jinping, demikian dilaporkan Bloomberg News sebelumnya. Presiden AS itu diperkirakan akan berkunjung ke China pada April mendatang.
Kesepakatan ini diumumkan di tengah penantian putusan Mahkamah Agung AS terkait tarif global Trump. Jika pengadilan memutuskan tidak berpihak pada Trump, hal itu dapat menghambat kemampuannya menetapkan tarif secara sepihak atas barang dari negara lain.
Presiden Taiwan Lai Ching-te sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap tujuan Trump untuk mereindustrialisasi AS, namun menilai reformasi kebijakan lahan, listrik, dan tenaga kerja di AS diperlukan agar proyek-proyek dapat berjalan. Taipei juga sempat menolak permintaan untuk memindahkan produksi cip ke AS guna memenuhi separuh kebutuhan Amerika.
Taiwan memperoleh jaminan bahwa AS akan menyediakan dukungan berupa lahan, utilitas, infrastruktur, insentif pajak, dan kemudahan visa agar perusahaan-perusahaannya dapat merealisasikan investasi, demikian pernyataan kabinet di Taipei.
Kesepakatan ini mengurangi tekanan ringan terhadap perekonomian Taiwan, yang melesat berkat ekspor teknologi—seperti akselerator dan server—yang permintaannya tinggi seiring perusahaan teknologi berlomba mengembangkan kemampuan AI.
Taiwan baru-baru ini merevisi proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2025 menjadi sekitar 7,3%, tertinggi sejak 2010. Lonjakan ekspor teknologi juga membantu meningkatkan surplus perdagangan tahunan Taiwan dengan AS menjadi rekor USD 150 miliar pada 2025.
(bbn)





























