Dengan begitu, program mandatori tersebut memang dirancang untuk menggantikan produk Pertamax atau bensin RON 92 secara bertahap.
Eniya menyatakan mandatori tersebut akan diterapkan secara terbatas pada wilayah-wilayah tertentu.
“Namun, itu pun di dalam roadmap kita pertimbangkan segmented. Jadi area-area tertentu. Jawa Timur, Jawa Barat, DIY, gitu, Jawa Tengah dulu, gitu, DKI Jakarta dulu. Nah, ini yang kita masukkan di roadmap karena bergantung sama suplainya tadi,” kata Eniya.
“Enggak mungkin sekejap. Itu tuh kita konsumsi [bensin Indonesia] luar biasa 39 juta, besar banget kan?" tegas dia.
Dalam kesempatan terpisah awal pekan ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berencana menerapkan mandatori bensin dengan campuran etanol atau bioetanol 20% (E20) paling cepat pada 2027 atau paling lambat pada 2028.
Bahlil menjelaskan masih mengkaji apakah akan memandatorikan E10 atau E20 pada periode tersebut, tetapi dia memastikan akan membangun pabrik pengolahan bioetanol untuk mempersiapkan program tersebut. Adapun, peta jalan atau roadmap bioetanol juga diklaimnya sudah hampir rampung.
“E10 sampai E20 untuk etanol, itu akan kita bikin mandatori karena nanti program itu pada 2027 atau 2028, itu akan dibangun di beberapa tempat. Bahan bakunya kan adalah jagung, kemudian singkong, dan tebu, dan beberapa komoditas lainnya,” kata Bahlil kepada awak media, di kawasan RDMP Balikpapan, Senin (12/1/2026).
Sebelumnya, Eniya menyatakan mandatori bioetanol yang akan diterapkan pada 2027 atau 2028 hanya akan menyasar BBM nonsubsidi yakni Pertamax.
Eniya peta jalan yang disusun kementerian belum membahas penerapan mandatori ke BBM nonsubsidi Pertalite.
“Pada saat ini masih untuk yang Pertamax, yang versi PSO belum dibahas,” kata Eniya ketika dihubungi Bloomberg Technoz, Jumat (9/1/2026).
Meskipun akan memandatorikan bensin dengan campuran etanol, Eniya menegaskan BBM jenis Pertamax tanpa campuran etanol akan tetap dijual secara luas.
Nantinya, lanjut dia, produk Pertamax dengan campuran etanol akan ditingkatkan peredarannya dan hanya berada di lokasi-lokasi tertentu.
“Tentunya masih ada karena produknya kan Pertamax Green 95 itu yang diperbanyak maksudnya dan dipertimbangkan di lokasi-lokasi tertentu, bukan langsung ke semua pulau di Indonesia ya,” tegas Eniya.
(azr/wdh)






























