Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) justru menilai pergerakan mata uang global, termasuk Indonesia, pada awal 2026 banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia. 

BI mengklaim tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, dan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju. Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve di Amerika Serikat (AS) ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun.

"Kondisi ini mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level 16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04% secara year-to-date (tahun kalender)," ujar Erwin G Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI dalam keterangan resminya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah sejak awal pergantian tahun baru, bahkan sempat ke level terlemah sepanjang masa, Rp16.878/US$ pada perdagangan pasar spot Selasa (13/1/2026) kemarin.

Depresiasi rupiah melampaui pelemahan pada April 2025 di Rp16.870/US$. Juga masa krisis 1998 di Rp16.650/US$.

Pada pembukaan perdagangan pasar spot hari ini, Rabu (14/1/2026), rupiah menguat terbatas 0,13% ke level Rp16.843/US$ Namun, tak berselang lama, rupiah kembali melemah 0,01% ke Rp16.867/US$. 

(lav)

No more pages