Sementara itu, saham–saham keuangan, dan saham konsumen primer juga melemah dengan minus 1,04%, dan 0,57%.
Bursa saham Asia lainnya justru kompak menapaki jalur hijau. Jelang tutup perdagangan Bursa Asia, Shenzhen Comp. (China), Hang Seng (Hong Kong), PSEI (Filipina), Shanghai Composite (China), TW Weighted Index (Taiwan), KOSPI (Korea Selatan), CSI 300 (China), KLCI (Malaysia), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Straits Times (Singapura), SENSEX (India), dan KOSDAQ (Korea) naik masing–masing 2,05%, 1,44%, 1,13%, 1,09%, 0,92%, 0,84%, 0,65%, 0,53%, 0,5%, 0,47%, 0,39%, dan 0,22%.
Melemahnya IHSG tersengat sentimen yang datang dari dalam negeri. Investor rasanya sedang mencerna defisit fiskal Indonesia yang melebar hingga 2,92% terhadap PDB pada 2025. Alhasil, premi risiko Indonesia di mata investor pun meningkat.
Defisit terjadi akibat realisasi pendapatan negara lebih rendah dibanding realisasi belanja negara. Defisit anggaran sebesar 2,92% dari PDB merupakan yang terlebar dalam setidaknya dua dekade di luar masa pandemi, seperti yang dilaporkan Bloomberg.
Kondisi ini menegaskan meningkatnya tekanan terhadap keuangan negara di tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat dan harga komoditas yang lemah, yang menekan penerimaan negara, pada saat Presiden Prabowo Subianto berkomitmen untuk meningkatkan belanja bagi program–program sosial dan politiknya.
Citigroup Inc. dalam risetnya menyebut, defisit fiskal Indonesia diprediksi melebar jauh melampaui batas legal tahun ini seiring pemerintah meningkatkan belanja untuk program Makan Bergizi Gratis serta pembangunan kembali di Pulau Sumatra yang terdampak banjir.
Citi menyeret proyeksi defisit anggaran bisa melesat menjadi 3,5% terhadap PDB pada 2026, dari prediksi sebelumnya 2,7% PDB, tulis Ekonom Helmi Arman dalam catatannya.
Skenario dasar Citi mengasumsikan pemerintah akan merevisi Undang-Undang Keuangan Negara untuk melonggarkan batas defisit fiskal 3% PDB. Namun ada skenario lain yaitu pemerintah memilih melangsungkan pemangkasan belanja secara signifikan guna menjaga disiplin fiskal.
“Rasio utang terhadap PDB diperkirakan meningkat menjadi sekitar 42% pada 2029, dari estimasi 39% pada 2025,” ungkap riset tersebut.
Bank of America Corp. juga menyuarakan kegelisahannya atas penerimaan negara Indonesia, biarpun tetap mempertahankan pandangan terhadap defisit anggaran akan dijaga di bawah 3% PDB tahun ini.
Target pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara sebesar 14% per tahun 2026 dinilai ambisius dengan laju realisasi saat ini, tulis ekonom BofA Kai Wei Ang dan Rahul Bajoria dalam catatannya.
Kendati demikian, pemerintah masih berpeluang memanfaatkan dana kontinjensi yang cukup besar yang dialokasikan untuk 2026 atau menahan laju kenaikan belanja, terang BofA.
(fad/aji)





























