Barang tahan lama terdiri dari penjualan telepon selular, kendaraan bermotor, dan barang elektronik lainnya. Bahkan, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sempat merevisi target penjualan mobil untuk 2025 dari sebelumnya 900.000 unit menjadi 780.000 unit.
Turunnya angka penjualan barang tahan lama secara tahunan menjadi sinyal bahwa rumah tangga justru sedang menahan belanja besar dan memilih mempertahankan uang daripada membelanjakannya, di luar kebutuhan dasar.
Agaknya rumah tangga masih membatasi pengeluaran non-esensial dan menyebabkan terjadinya pergeseran perilaku konsumsi ke arah yang cenderung defensif. Kenaikan yang terjadi pada kelompok ini secara bulanan lantaran ada faktor musiman Hari Raya Natal dan Tahun Baru yang menopang konsumsi.
Gambaran yang sama juga terlihat dari sisi konsumsi spasial. Wilayah Bandung, dan DKI Jakarta, yang selama ini jadi motor penggerak konsumsi nasional justru menunjukkan pelemahan. IPR Bandung tercatat menurun 9,1%, dan DKI Jakarta turun 9,5%. Bahkan di Medan dan Manado mengalami penurunan tajam masing-masing 12,3% dan 13%.
Sebaliknya, pertumbuhan relatif tinggi di Surabaya, mencapai 17% dan beberapa kota di Jawa Tengah seperti Semarang dan Purwokerto naik 8,2%. Kenaikan juga tercatat di Banjarmasih sebesar 3,7%. Sehingga secara nasional, kota-kota ini membantu menahan laju pelemahan IPR.
Waspada Penurunan Kualitas Konsumsi
Kenaikan angka IPR bulanan yang tak dibarengi dengan pertumbuhan spasial secara menyeluruh di semua kota besar mengindikasikan bahwa konsumsi Indoneia sedang mengalami penurunan kualitas.
Aktivitas belanja memang masih berlangsung, tapi hanya terkonsentrasi pada kebutuhan minimum. Artinya, pertumbuhan yang ada tertopang oleh faktor musiman, dan sifatnya bertahan.
Meski begitu, laporan ini juga mencatat bahwa pedagang ecerean cukup optimis terhadap penjualan tiga hingga enam bulan ke depan dengan ekspektasi penjualan dalam enam bulan naik 144,8 dan tiga bulan 145. Indeks di atas 100 artinya optimis di bawah 100 berarti pesimis.
Akan tetapi, optimisme ini juga perlu ditelaah lebih dalam. Sebab pada saat yang sama ekspektasi kenaikan harga juga meningkat.
"Indeks Ekspektasi Harga (IEH) tiga bulan yang akan datang diprediksi meningkat pada Februari sebesar 168,6 lebih tinggi daripada periode sebeumnya 163,2, didorong oleh ekspektasi kenaikan harga menjelang Ramadan 1447 H," kata Laporan BI.
Artinya, pelaku usaha melihat ruang bertahan bukan tertopang dari volume penjualan tetapi lebih karena penyesuaian harga. Dengan kata lain, ekspektasi pertumbuhan yang ada berpotensi bersumber dari inflasi, bukan adanya ekspansi permintaan riil secara masif.
Selama ini, konsumsi rumah tangga berkontribusi lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB). Saat kualitas konsumsi menurun, ruang pertumbuhan ekonomi jadi menyempit. Artinya, ekonomi nasional masih terus bergerak, tapi dengan mesin utama yang mulai kehabisan bahan bakar.
Tanpa perbaikan signifikan pada pendapatan riil, dan kualitas lapangan kerja, penurunan angka pengangguran dan naiknya partisipasi kerja, konsumsi akan terus berada dalam mode bertahan.
(riset/aji)






























