Logo Bloomberg Technoz

Kini Rio memiliki bos baru dan kedua pihak tampaknya bersedia untuk berkompromi. Rio mungkin pada akhirnya mempertimbangkan untuk membayar premi akuisisi, kata beberapa sumber, sedangkan sumber lain menyarankan pihak Glencore terbuka untuk bersikap pragmatis terkait hal manajemen—menyadari perusahaan lebih besar yang membayar premi akuisisi kemungkinan besar akan berusaha menempatkan pemimpinnya di perusahaan baru.

Terlebih lagi, perubahan sikap investor terhadap pertambangan batu bara, berarti Rio akan membeli Glencore secara langsung dengan lebih sedikit kekhawatiran akan reaksi negatif. Bloomberg sebelumnya melaporkan Rio terbuka untuk mempertahankan bisnis batu bara Glencore.

Namun, pembicaraan masih dalam tahap awal, dan para sumber mengingatkan bahwa kedua pihak masih jauh dari mencapai kesepakatan. Bahkan jika mereka bisa, setiap kombinasi akan sangat kompleks dan membutuhkan persetujuan dari sejumlah regulator di tengah pengawasan pemerintah terhadap sumber daya alam semakin ketat.

"Rasanya kedua pihak menginginkan kesepakatan," kata George Cheveley, manajer portofolio di perusahaan pengelola aset Ninety One, yang memiliki saham Glencore. "Glencore memiliki banyak proyek tembaga brownfield dan greenfield, sedangkan Rio tidak, tetapi Rio memiliki keahlian untuk membangun dan menjalankannya."

Perwakilan Rio dan Glencore menolak berkomentar.

Dalam pembicaraan 2024, Glencore meminta rasio merger yang akan memberi pemegang sahamnya sekitar 40% dari perusahaan gabungan, menurut beberapa sumber. Jika tingkat yang sama tetap menjadi acuan dalam negosiasi Glencore, artinya mewakili premi sekitar 25% terhadap harga saham kedua perusahaan tanpa gangguan. 

Dua sumber yang mengetahui pemikiran Rio mengatakan perusahaan tersebut mungkin bersedia mempertimbangkan untuk membayar premi akuisisi, meski sumber lain memperingatkan bahwa prosesnya masih terlalu awal untuk dievaluasi.

Ide penggabungan kedua perusahaan telah dibahas berulang kali selama lebih dari satu dekade. Gagasan ini pertama kali muncul sebelum krisis keuangan global tahun 2008, dan kemudian dihidupkan kembali pada 2014—ketika Rio dengan cepat menolak pendekatan informal Glencore—sebelum pembicaraan dilanjutkan secara serius tahun 2024.

Meski diskusi tersebut berakhir tanpa kesepakatan, ide merger kedua perusahaan tidak pernah hilang. September lalu, Bloomberg melaporkan Glencore terus bekerja di balik layar dengan para bankirnya mengenai untuk merumuskan kesepakatan potensial.

Kali ini, Rio-lah yang menginisiasi kembali pembicaraan terbaru, menurut beberapa sumber.

Upaya Rio Membeli Tembaga Glencore Terjadi Saat Harga Bijih Besi Anjlok. (Bloomberg)

Perusahaan tambang tersebut mengalami perubahan penting sejak diskusi tahun 2024 gagal: mereka memiliki CEO baru. Jakob Stausholm, warga Denmark yang tenang tanpa latar belakang di dunia pertambangan yang penuh persaingan, diminta oleh dewan direksi untuk mengundurkan diri. Penggantinya diumumkan, yakni eksekutif yang sudah lama bekerja di Rio, Simon Trott, pada Juli.

Bagi Rio, alasan utama untuk membeli Glencore bermuara pada tembaga. Meski perusahaan tambang ini merupakan pemain utama di pasar—mulai aluminium, tembaga, dan litium—bijih besi masih menyumbang lebih dari setengah pendapatan perusahaan dalam laporan keuangan terbarunya.

Prospek jangka menengah bijih besi suram. Pasar properti China yang melambat mengurangi permintaan, sedangkan proyek besar Rio di Guinea siap membanjiri pasar dengan pasokan. Tembaga, di sisi lain, telah lama menjadi logam paling diminati oleh eksekutif tambang yang melihat masa depan cerah bagi logam ini karena tren elektrifikasi meningkatkan permintaan.  

Rio memiliki prospek pengembangan tembaga yang relatif terbatas karena tambang Oyu Tolgoi di Mongolia telah mencapai kapasitas maksimal. Glencore, di sisi lain, mengadakan hari investor bulan lalu untuk menyoroti beragam opsi pengembangan tembaga di Argentina, Peru, dan Republik Demokratik Kongo.

Kesepakatan merger yang ditandatangani Anglo American Plc dan Teck Resources Ltd pada September dan lonjakan harga tembaga baru-baru ini ke rekor tertinggi di atas US$13.000 per ton hanya memperkuat tekanan pada Rio untuk bertindak.

Para eksekutif perusahaan menyadari bahwa ketergantungan relatifnya pada bijih besi, bersama dengan rencana pertumbuhan Glencore jika mampu diwujudkan, berarti menunda keputusan hanya akan membuat kesepakatan menjadi lebih mahal, menurut beberapa sumber.

Masih banyak kompleksitas yang harus diatasi, bahkan jika kedua perusahaan menyepakati syarat-syaratnya. Bisnis batu bara Glencore masih bermasalah bagi beberapa pemegang saham besar Rio karena khawatir akan keberlanjutannya.

Dan sisi lain dari bisnisnya—mulai dari unit perdagangan yang pada 2022 mengakui adanya korupsi historis yang meluas, hingga asetnya di negara-negara seperti Kongo dan Kazakhstan—akan terbukti tidak menarik bagi sebagian pihak. 

Struktur transaksi juga mungkin akan rumit akibat pencatatan ganda Rio di Inggris dan Australia, sementara kesepakatan yang berhasil akan diawasi ketat oleh regulator antimonopoli di berbagai negara, dari China hingga Kanada.

Namun, dalam wawancara dengan Bloomberg pada Jumat, pemegang saham besar dari kedua perusahaan secara tentatif mendukung potensi kesepakatan tersebut.

"Kami tidak mendesak untuk mencapai kesepakatan, tetapi kami terbuka atas semua opsi yang menciptakan dan menonjolkan nilai bagi pemegang saham Glencore," kata Justin Hance, mitra dari Harris Associates LP yang berbasis di Chicago, pemegang saham terbesar ke-11 Glencore, menurut data Bloomberg.

"Daya tarik dari setiap kesepakatan tidak hanya bergantung pada rasio pemegang saham, tetapi juga pada struktur, syarat, dan detail transaksi yang lebih rinci."

(bbn)

No more pages