Purbaya mengaku telah mengetahui seluruh nama perusahaan tersebut. Perusahaan itu, kata dia, juga diklaim memiliki nama yang cukup familiar di dalam negeri.
"[Untuk sawit] Itu kita lihat kapal per kapal. Saya baru dapat 10 perusahaan besar. Kira-kira 50% ekspor mereka yang diakui, enggak sampai separuhnya," ujar Purbaya.
"Nanti kita tindak dengan cepat. Ada perusahaan baja, ada perusahaan bangunan."
Sindiran Prabowo
Temuan tersebut, kata Purbaya, juga diungkap usai dirinya mendapat sindiran dari Presiden Prabowo Subianto saat retreat kabinet yang berlangsung di kediaman pribadi Prabowo, Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
Purbaya mengatakan bahwa dalam retreat yang digelar pada Selasa (6/1/2026) lalu, Prabowo sempat mengatakan bahwa pemerintah kerap dibohongi oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Bea Cukai (DJBC).
"Saya disindir lagi dalam pertemuan kemarin dengan Presiden di Hambalang, dia bilang 'Apakah kita akan mau dikibulin terus oleh pajak dan bea cukai?' Itu pesan ke saya dari presiden walaupun dia enggak ngeliat ke saya," ujarnya.
Praktik tersebut juga kerap tidak terdeteksi oleh kedua lembaga di bawah naungan Kementerian Keuangan tersebut. Praktik penghindaran pajak yang turut melibatkan pegawai DJP dan Bea Cukai juga menjadi sorotan Prabowo.
"Hal yang saya heran adalah ada perusahaan yang familiar, perusahaan dari asing bisa beroperasi di sini, sementara orang pajak selama ini seperti agak tutup mata. Kalau saya tahu, kan mereka pasti lebih tahu dari saya, yang bea cukai seperti itu juga."
(ibn/ros)


























