"Secara internal, Taklimat ini adalah kunci soliditas dan sinkronisasi kerja. Prabowo ingin memastikan tidak ada ego sektoral dalam mengeksekusi Strategi Transformasi Bangsa. Sementara secara eksternal, ini pesan lugas ke publik bahwa pemerintah tidak main-main dalam bekerja," ujar Agung Baskoro.
Agung juga menyoroti ketegasan politik Prabowo dalam menghadapi dinamika internasional. Dengan swasembada pangan yang sudah di tangan, Indonesia memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat di mata dunia.
"Di bawah komando Prabowo, kita melihat gaya kepemimpinan yang berorientasi pada hasil (result-oriented). Keberhasilan swasembada beras ini adalah bukti nyata bahwa Indonesia mulai mandiri dan kuat. Ini bukan cuma soal perut, tapi soal kedaulatan di tengah konflik global," tambah Agung.
Pemerintah meyakini bahwa dengan tercapainya swasembada pangan, momentum pertumbuhan ekonomi akan tetap terjaga. Stabilitas harga pangan domestik menjadi bantalan kuat untuk mengejar target ambisius Indonesia Emas 2045.
Menurut Agung, Prabowo secara tegas menginstruksikan para menterinya untuk terus tancap gas. Baginya, transformasi bangsa hanya bisa terwujud jika setiap lini pemerintahan berani mengambil inisiatif demi kemajuan Indonesia.
Langkah di Hambalang ini menjadi pengingat bahwa di tahun kedua kepemimpinannya, Prabowo Subianto tetap konsisten dengan gaya kepemimpinan yang disiplin dan patriotik.
"Dengan lumbung pangan yang penuh, Indonesia kini menatap dunia dengan kepala tegak," pungkas Agung.
(red)


























