Logo Bloomberg Technoz

Saham HUMI masih melanjutkan penguatan hari ini, Selasa (6/1/2025), dengan kenaikan 10,56% ke level Rp356/saham hingga jelang penutupan siang.

Penguatan juga terlihat pada saham PT Temas Tbk (TMAS) yang naik ke posisi Rp187/saham. Dalam satu minggu perdagangan, saham TMAS melonjak 43,85%, sementara secara bulanan menguat 41,67%, dengan kapitalisasi pasar tercatat sekitar Rp10,67 triliun.

Adapun saham PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) pada perdagangan kemarin menguat 1,36% ke level Rp448/saham. Secara akumulatif, saham SMDR telah naik 27,27% dalam satu minggu dan 46,41% dalam satu bulan perdagangan.

Saham PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) juga bergerak searah dengan mayoritas emiten perkapalan dan berada di posisi Rp424/saham. Dalam tiga bulan perdagangan, saham HATM tercatat melonjak 78,5%, sementara dalam enam bulan terakhir menguat 49,30%.

Sementara itu, saham PT Soechi Lines Tbk (SOCI) juga telah disuspensi oleh BEI setelah mencatatkan kenaikan signifikan. Sebelum suspensi, saham SOCI berada di level Rp580/saham, dengan penguatan 163,64% dalam satu bulan dan 31,82% dalam satu minggu perdagangan.

Suspensi saham SOCI baru dibuka kemarin. Hari ini, turun tidak terlalu signifikan, sebesar 10 poin ke level Rp570/saham.

Menanggapi fenomena tersebut, Head of Research NH Korindo Sekuritas Ezaridho Ibnutama menilai bahwa penguatan saham perkapalan saat ini tidak sepenuhnya dipicu sentimen domestik, melainkan lebih dipengaruhi oleh perubahan lanskap geopolitik global, khususnya terkait Venezuela.

“Seiring Amerika Serikat saat ini mengambil alih kendali pemerintahan Venezuela sekaligus menempatkan sumber daya minyaknya di bawah pengelolaan perusahaan-perusahaan AS, kami menilai sanksi yang selama ini membatasi arus masuk dan keluar minyak serta gas Venezuela berpotensi dilonggarkan dalam beberapa pekan ke depan,” ujar Ezaridho, Selasa (6/1/2025)

Menurutnya, kebijakan sanksi yang didukung AS sebelumnya memang menekan pasokan minyak Venezuela dan menopang stabilitas harga minyak dan gas, namun pada saat yang sama mendorong pengalihan rute kapal tanker menjauhi kawasan Karibia. Kondisi tersebut menciptakan inefisiensi logistik yang meningkatkan permintaan kapal tanker minyak serta mendorong kenaikan valuasi emiten sektor logistik energi.

Ezaridho menambahkan, meskipun terdapat peluang pelonggaran sanksi, pengalihan rute tanker minyak berpotensi tetap berlanjut guna menghindari kehadiran militer AS di kawasan tersebut. Oleh karena itu, sektor logistik minyak dan gas dinilai masih berpeluang mempertahankan momentum hingga setidaknya semester II/2026.

Faktor Likuiditas

Seiring dengan lonjakan harga saham, pengamat pasar modal Reydi Octa menilai penguatan saham-saham pelayaran tersebut tidak sepenuhnya didorong oleh perbaikan fundamental perusahaan.

“Kenaikan saham pelayaran tersebut lebih dipicu momentum dan spekulasi jangka pendek, bukan perbaikan fundamental,” ujar Reydi, Selasa (6/1/2026).

Kenaikan harga saham juga terjadi seiring rotasi tema ke sektor pelayaran di awal tahun, yang mendorong masuknya dana jangka pendek.

Selain itu, saham-saham pelayaran umumnya memiliki kapitalisasi kecil dengan free float terbatas, sehingga pergerakan harga menjadi lebih mudah terdorong ketika volume transaksi meningkat.

Reydi juga menilai terdapat efek teknikal dan fenomena fear of missing out (FOMO) yang menyebabkan harga saham naik tanpa didukung katalis bisnis yang jelas.

“Sampai saat ini tidak ada isu korporasi besar atau lonjakan kinerja yang benar-benar menjelaskan kenaikan tersebut,” kata Reydi.

Ia menambahkan, langkah suspensi yang dilakukan BEI merupakan upaya untuk meredam euforia pasar agar investor tidak terjebak pada reli harga yang berbasis sentimen.

“Ini reli berbasis sentimen dan likuiditas, bukan fundamental, sehingga wajar jika rawan koreksi dan perlu diwaspadai investor ritel,” ujar Reydi.

***Dengan asistensi Recha Tiara***

(dhf)

No more pages