Produsen Labubu itu muncul sebagai contoh langka merek konsumen China yang meraih popularitas global. Perusahaan tersebut bertaruh besar pada pasar AS, dengan target melipatgandakan jumlah tokonya di sana tahun ini dari sekitar 60 gerai dan 100 mesin penjual otomatis ‘roboshop’ yang ada saat ini.
Namun, pertanyaan mengenai keberlanjutan tren Labubu telah membebani saham Pop Mart yang tercatat di Hong Kong, yang merosot sekitar 40% dari rekor tertinggi pada Agustus. Investor khususnya khawatir terhadap permintaan mainan koleksi selama musim liburan AS, berdasarkan data penjualan pihak ketiga.
Meski demikian, analis Morgan Stanley mengatakan dalam catatan pada Senin bahwa data alternatif tersebut kemungkinan meremehkan potensi penjualan Pop Mart di Amerika Utara. Mereka menambahkan bahwa boneka non-Labubu telah menjadi pendorong pertumbuhan yang lebih kuat pada kuartal keempat 2025.
Saham Pop Mart melonjak hingga 5,7% di Hong Kong pada Selasa, kenaikan terbesar dalam lebih dari sebulan dan menandai hari ketiga berturut-turut penguatan.
“Kami melihat pemulihan kepercayaan terhadap perusahaan-perusahaan konsumsi baru terkemuka,” kata analis Morningstar Inc. Jeff Zhang, seraya menambahkan bahwa peluncuran produk baru Pop Mart pada awal 2026diperkirakan akan mendorong pertumbuhan penjualan baru. Perusahaan ini dijadwalkan merilis akhir pekan ini sejumlah seri mainan, termasuk koleksi gantungan boneka plush untuk tahun kuda, yang menampilkan perpaduan karakter-karakter populernya.
(bbn)
































