Vietnam berhasil mempertahankan statusnya sebagai salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Penyaluran kredit yang agresif, kebijakan negara yang suportif, pelemahan mata uang Dong, serta lonjakan sektor pariwisata membantu negara ini menavigasi dampak pengenaan tarif AS sebesar 20%.
Negara Asia Tenggara yang mengekspor berbagai kebutuhan mulai dari alas kaki hingga furnitur ke Amerika ini mencatatkan rekor surplus perdagangan sebesar US$133,9 miliar dengan AS pada tahun 2025—melonjak 28% dari tahun sebelumnya. Vietnam kini memiliki celah perdagangan terbesar ketiga dengan AS, hanya di bawah China dan Meksiko, yang sekaligus mempertegas skala pergeseran rantai pasok global menjauh dari China.
Sepanjang dua masa jabatan Trump, Vietnam telah muncul sebagai kekuatan ekspor sekaligus sasaran tuduhan Trump mengenai mitra dagang yang "merugikan" AS. Manufaktur dan pengapalan ke AS melonjak setelah Trump mulai menyasar pemasok China dengan pembatasan perdagangan, yang memicu banyak perusahaan pindah ke Vietnam untuk menghindari tarif. Hingga saat ini, negosiator dari kedua belah pihak masih terus menggodok ketentuan perjanjian dagang yang lebih mendetail.
Ekspor Vietnam pada bulan lalu melonjak hampir 24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor manufaktur, yang tumbuh lebih dari 10% pada kuartal IV, menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, menurut kantor statistik.
Namun, dorongan pertumbuhan tersebut juga menyimpan sejumlah risiko.
Perbankan menghadapi tekanan likuiditas setelah penyaluran kredit meningkat 17,9% tahun lalu, melampaui pertumbuhan dana simpanan yang hanya 14%, demikian disampaikan bank sentral pekan lalu. Otoritas moneter telah mengambil sejumlah langkah, termasuk transaksi swap dolar, untuk menambah ketersediaan likuiditas bagi perbankan.
Pada November, Fitch Ratings memperingatkan bahwa laju penyaluran kredit perbankan Vietnam yang terlalu cepat meningkatkan risiko, dengan mencatat pertumbuhan kredit selama bertahun-tahun telah melampaui pertumbuhan ekonomi.
“Pengendalian inflasi berpotensi menjadi tantangan pada 2026 karena fluktuasi harga energi dan barang di pasar global masih sulit diprediksi,” ujar Nguyen Thu Oanh, Kepala Departemen Harga di Kantor Statistik Nasional, dalam konferensi pers Senin. “Biaya logistik kemungkinan terus meningkat dan konflik global dapat memicu gangguan pasokan,” tambahnya.
(bbn)
































