Logo Bloomberg Technoz

Dari sisi laba, Devyani membukukan rugi bersih sebesar 219 juta rupee pada periode tersebut, berbalik dari laba 170 ribu rupee pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sapphire juga mencatat rugi bersih konsolidasi sebesar 127,7 juta rupee, melebar dari kerugian 30,4 juta rupee setahun sebelumnya.

Merger ini diharapkan menjadi titik balik bagi kedua operator dalam memperkuat daya saing serta menuju profitabilitas di pasar makanan cepat saji India, yang merupakan salah satu pasar terbesar di dunia berdasarkan jumlah penduduk.

Sementara itu, di Indonesia, kinerja keuangan emiten pengelola KFC dan Pizza Hut menunjukkan kondisi yang hampir mirip, meski keduanya berada di bawah induk usaha yang berbeda. PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), operator KFC Indonesia, mencatatkan rugi bersih sebesar Rp239,58 miliar per September 2025.

Pendapatan FAST pada kuartal III-2025 tercatat Rp3,56 triliun, turun tipis 0,76% yoy dari Rp3,59 triliun. Di sisi lain, perusahaan berhasil menekan beban pokok pendapatan sebesar 4,99% yoy menjadi Rp1,43 triliun dari sebelumnya Rp1,5 triliun, seiring upaya efisiensi biaya operasional.

FAST juga melakukan penyesuaian operasional dengan menutup 20 gerai KFC sepanjang 2025. Hingga 30 September 2025, jumlah gerai yang dioperasikan tercatat 695 unit, turun dari 715 gerai pada akhir 2024.

Selain itu, jumlah karyawan FAST berkurang 1.041 orang sepanjang 2025, sehingga total tenaga kerja per akhir September 2025 menjadi 12.065 orang. Dari sisi neraca, total aset FAST tercatat Rp4,14 triliun, dengan liabilitas dan ekuitas masing-masing sebesar Rp4,12 triliun dan Rp16,22 triliun.

PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) selaku pengelola Pizza Hut Indonesia juga tertekan, meski mampu memperbaiki kinerja keuangan di periode pelaporan terbaru. Setelah sebelumnya merugi, PZZA membukukan laba bersih sebesar Rp15,91 miliar pada kuartal III-2025, berbalik dari rugi Rp96,71 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perolehan laba tersebut sejalan dengan peningkatan penjualan sebesar 11,17% yoy menjadi Rp2,26 triliun. Segmen makanan menyumbang penjualan Rp2,13 triliun atau naik 12,14% yoy, sementara segmen minuman tercatat Rp128,7 miliar, turun 2,71% yoy. Beban pokok penjualan PZZA naik menjadi Rp690,27 miliar, namun laba bruto tetap meningkat 12,61% yoy menjadi Rp1,57 triliun.

Perusahaan juga mencatat penurunan beban umum dan administrasi menjadi Rp137,97 miliar dari sebelumnya Rp146,73 miliar, serta penyusutan beban bunga dan keuangan menjadi Rp29,19 miliar dari Rp41,2 miliar.

Dari sisi neraca, PZZA membukukan total aset sebesar Rp1,95 triliun dengan liabilitas Rp917,57 miliar dan ekuitas Rp1,03 triliun per akhir September 2025.

(dhf)

No more pages