Dia menuturkan, pencegahan penipuan sejak awal guna menjaga penghasilan PMI tetap sampai kepada keluarganya dan dapat berdampak langsung pada ekonomi nasional.
Pemerintah juga mengatakan tengah menyiapkan literasi digital yang praktis bagi PMI dan keluarga di Tanah Air untuk membantu mengenali ciri penipuan online, menjaga data pribadi dan memilih kanal informasi resmi.
“Kita lakukan dengan lebih cepat dan lebih masif lagi untuk melakukan takedown terhadap konten-konten yang menipu, mengeksploitasi, dan menyesatkan para pekerja migran kita,” ujar Meutya.
Sebelumnya, Kementerian P2MI mencatat terjadi penurunan penempatan PMI sebesar 8,85% secara tahunan pada Februari 2025, yakni menjadi 23.373 orang, dibandingkan Februari 2024 yang mencapai 25.643 orang.
PMI tersebar di pelbagai negara seperti Hong Kong, Taiwan, Malaysia, Singapura, dan Jepang yang menjadi negara tujuan utama dengan jabatan paling umum pembantu rumah tangga, perawat atau pengasuh, dan pekerja kebun.
Sementara, daerah di Indonesia yang menyumbang PMI terbanyak berada di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
(far/naw)






























