Logo Bloomberg Technoz

Bahkan, Ishak menilai siapapun mitra Kufpec nantinya, Pertamina perlu dilibatkan dalam pengembangan Blok Natuna D-Alpha sebagai operator atau pemegang saham mayoritas.

Dia memandang hal tersebut perlu dilakukan agar kendali strategis dan manfaat lapangan kaya gas tersebut secara maksimal didapatkan oleh negara.

Ishak juga berharap terdapat transfer teknologi yang dilakukan Kufpec ke Pertamina jika turut bergabung mengembangkan Blok Natuna D-Alpha.

Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan Pertamina sehingga mampu mengelola blok sulit yang belum terjamah.

“Seperti di Selat Makassar, dan Maluku, termasuk kedepannya lebih dominan mengelola Blok Natuna-D yang yang depositnya dapat mencapai lebih dari 230 TFC,” tegas Ishak.

Lebih lanjut, dia memprediksi nilai investasi pengembangan wilayah kerja (WK) Natuna D-Alpha akan cukup tinggi.

Alasannya, kandungan karbondioksida (CO2) di lapangan tersebut cukup tinggi dan potensi migas di wilayah tersebut berada di laut dalam.

“Blok Natuna D-Alpha memang menantang sebab membutuhkan investasi sangat besar  sekitar US$20—US$40 miliar,” ungkap Ishak.

Sebagai informasi, WK yang terletak di Pulau Natuna, Kepulauan Riau. Blok tersebut memiliki potensi kandungan gas mencapai 222 triliun kaki kubik (TCF), yang digadang-gadang sebagai salah satu yang terbesar di dunia.

Akan tetapi, lapangan kaya gas tersebut memiliki kandungan karbondioksida (CO2) yang cukup tinggi membuat kandungan gas yang bisa dieksploitasi kemungkinan hanya sekitar 46 TCF.

Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat potensi kandungan minyak dari Natuna D-Alpha sekitar 2.865 juta barel (MMBO).

Sejak pertama kali ditemukan adanya kandungan gas pada 1973, Lapangan D-Alpha Blok Natuna belum juga digarap atau dieksploitasi.

Sebelumnya, blok migas tersebut sempat dilelang ulang oleh Kementerian ESDM pada akhir Juli 2023 dan saat ini Kufpec disebut bakal mendorong monetisasi awal cadangan minyak yang tersimpan di blok tersebut.

Lebih lanjut, Kufpec dikabarkan tengah mengajak Shell untuk menggarap struktur gas Natuna D-Alpha, Laut Natuna Utara setelah Kufpec melakukan joint study di prospek Natuna D-Alpha pada 2024

Serampung joint study, Kufpec mengundang sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) potensial untuk ikut bergabung pada megaproyek tersebut.

Sejumlah KKKS yang didekati memiliki portofolio di lepas pantai Kepulauan Natuna. Beberapa nama yang sempat berseliweran di antaranya PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC).

Kendati demikian, bos MEDC Hilmi Panigoro sebelumnya menampik ihwal keterlibatan grupnya pada megaproyek tersebut. “Tidak ikut,” kata Hilmi di sela pergelaran IPA Convex di ICE BSD, Selasa (20/5/2025).

Sementara itu, sumber Bloomberg Technoz menuturkan, PHE belakangan menarik diri dari tawaran yang diajukan Kufpec.

Adapun, Shell pernah menjadi pemegang 35% ak partisipasi atau participating interest (PI) proyek Abadi Masela bersama Inpex Corporation (Inpex). Namun, pada 2020, Shell memutuskan untuk keluar dari proyek tersebut dengan menjual 35% hak partisipasinya seharga US$2 miliar.

Upaya Shell untuk melakukan divestasi dari Blok Masela sejak itu berlarut-larut, sehingga menciptakan ketidakpastian seputar kelanjutan pengembangan lapangan tersebut.

Kementerian ESDM pada akhir Mei 2023 bahkan pernah mengungkapkan kegeramannya terhadap Shell, yang akhirnya memutuskan untuk hengkang dari proyek Abadi Masela.

(azr/wdh)

No more pages