“Harga di tahun ini dibanding tahun 2026 relatif tidak akan bergerak jauh karena dari sisi permintaan dan produksi itu masih dalam keadaan surplus kira-kira 10 juta ton menurut dua pemain batubara besar di dunia. Revenue akan kurang lebih sama di tahun 2026–2025, kecuali jika China meningkatkan kembali impor batubaranya,” ujarnya.
Dalam sesi tanya jawab, manajemen menegaskan arah transformasi perusahaan yang secara bertahap mengurangi ketergantungan pada tambang batu bara termal. Direktur BUMI, Christopher Fong menjelaskan bahwa perusahaan kini memfokuskan strategi pada ekspansi mineral.
“Kami sedang menjalankan transformasi jauh dari tambang termal sementara kami menjalankan operasi tambang termal. Fokusnya adalah mineral-mineral dan proses pengelompokan. Kami akan mengumumkan akuisisi lanjut selama 6 hingga 12 bulan di sektor mineral dan mungkin di area lain,” ujarnya
BUMI menargetkan komposisi pendapatan 50% dari mineral dan 50% dari aset termal pada tahun 2031.
“Dalam 5 hingga 6 tahun atau pada tahun 2031, dengan konsolidasi IPTA, kami seharusnya mencapai 50-50 terhadap mineral-mineral tanpa termal dan aset termal,” jelas Christopher.
Direktur Perseroan Rio Supin menjelaskan fokus BUMI terhadap mineral non-emas, khususnya tembaga dan bauksit.
“Untuk pengembangan bisnis Bumi ke depan, seperti yang telah diumumkan juga bahwa Bumi akan masuk ke mineral tembaga, copper. Itu bisa dilihat dari akuisisi tambang Wolfram di Queensland, Australia, yang produknya adalah copper and gold, yang hasilnya nanti adalah copper konsentrat,” ujarnya.
BUMI juga telah memulai proses akuisisi terhadap PT Laman Mining di Kalimantan Barat. “Untuk melihat peluang bisnis di bidang aluminium dan alumina Bumi telah memulai proses akuisisi untuk PT Laman Mining di Kalimantan Barat, yang akan diharapkan ke depannya akan melakukan proses juga menjadi produk alumina,” kata Rio.
Rio menegaskan bahwa fokus perseroan saat ini adalah menyelesaikan tahapan akuisisi sesuai perjanjian. Untuk tambang JML di Queensland, BUMI akan mengakuisisi hingga hampir 65% saham sesuai perjanjian awal tahun 2025.
“Belum ada rencana lebih lanjut apakah kita akan menambah kepemilikan, fokus manajemen saat ini adalah bagaimana tambang JML bisa segera beroperasi sesuai dengan rencana,” ujarnya.
Sementara itu, untuk Laman Mining, BUMI akan mengakuisisi hingga 45% saham sesuai perjanjian awal dan saat ini fokus pada penyelesaian tahap pertama transaksi. “Fokus bertahap dalam pengembangan bisnis ini,” ujar Rio
Terkait rencana aksi korporasi, Direktur Perseroan RA Sri Dharmayanti menegaskan bahwa BUMI tidak memiliki agenda rights issue pada tahun depan.
“Pada saat ini kami Bumi sebagai perseroan tidak ada rencana untuk melakukan aksi korporasi berupa rights issue untuk tahun 2026,” ujarnya.
Namun ia menekankan bahwa setiap perubahan material akan disampaikan sesuai ketentuan. “Sebagai perusahaan terbuka, setiap rencana material tentunya akan kami sampaikan terlebih dahulu kepada regulator dan kami akan tunduk kepada ketentuan yang berlaku,” tambahnya.
Dari sisi pasar modal, Direktur Perseroan Maringan Ido Hutabarat juga menilai bahwa eksekusi transformasi non-batubara akan menjadi faktor yang dapat mempengaruhi minat investor.
“Eksekusi diversifikasi bisnis non-batubara akan menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa transformasi perseroan sedang berjalan efektif,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penguatan fundamental dan dinamika eksternal seperti harga komoditas atau kebijakan pemerintah juga dapat turut memengaruhi penilaian pasar.
Dalam pemaparan industri, manajemen menjelaskan bahwa harga batu bara thermal global masih mengalami tekanan. Per Oktober 2025, Newcastle Coal Price berada di level 103,95 dolar AS, sementara HBA periode pertama November 2025 berada di 103,75 dolar AS. Tekanan harga dipengaruhi surplus pasokan di China dan India serta pelemahan permintaan global.
Permintaan batu bara 2025–2026 diproyeksikan stagnan. Penurunan permintaan dari China dan India dinilai tertutupi oleh peningkatan dari negara lain sehingga tidak terjadi perubahan signifikan secara global.
Produksi batu bara nasional pada sembilan bulan 2025 tercatat turun 15% year-on-year menjadi 509 juta ton, sejalan dengan penurunan volume ekspor 4,7% year-on-year. Pemerintah menargetkan produksi nasional turun menjadi 750 juta ton pada 2025 dan di bawah 700 juta ton pada 2026.
(ain)


























