Logo Bloomberg Technoz

Di sisi penyaluran kredit, Superbank menerbitkan produk Pinjaman Atur Sendiri (PAS). Mengutip informasi dari laman resmi Superbank, pinjaman ini tanpa jaminan digital sehingga memberikan fleksibilitas kepada nasabah untuk menentukan jumlah dan jangka waktu pinjaman. Kemudahan ini mereka pertegas untuk memperluas akses kredit bagi nasabah ritel dan UMKM. 

Bank Digital 

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, digitalisasi sistem perbankan menjadi satu keniscayaan. Saat ini, ada sekitar 17 bank digital yang beroperasi di Indonesia, empat di antaranya adalah SeaBank, Bank Jago, AlloBank, Superbank, dan Bank Neo Commerce. 

Bank digital juga menawarkan keamanan data dan transaksi, serta fleksibilitas dalam mengakses aplikasi dan memiliki kelengkapan fitur. Data dalam riset Ipsos tentang Studi Perilaku dan Kepuasan Konsumen terhadap Bank Digital di Indonesia, menyebut bank digital kian diminati oleh konsumen, terutama dari kalangan Gen Z. Tren positif pertumbuhan bank digital ini berbanding lurus dengan pertumbuhan transaksi digital yang naik 40,1% secara tahunan (year-on-year), menurut Bank Indonesia. Prediksinya, tren positif masih akan terus berlanjut di tahun 2025 ini, dengan kenaikan 52%. 

Fitur & Segmen

Bank Konvensional 

Bank Digital

Nasabah

Masyarakat umum yang memiliki kebutuhan perbankan konven

  1. Generasi muda yang melek teknologi

  2. Pekerja gig atau pemilik UMKM yang bekerja di sektor informal membutuhkan alat transaksi

Layanan 

Menyediakan layanan yang komprehensif dan produk bervariasi, termasuk pinjaman dalam jumlah besar.

Layanan terbatas, lebih menonjolkan kebutuhan transaksi harian. 

Biaya Admin & Bunga 

Memiliki biaya admin yang relatif tinggi, sementara bunganya rendah. 

Cenderung mengutip biaya admin rendah, bahkan gratis biaya transfer. Dan memungkinkan bunga tinggi bagi pemilik simpanan karena biaya operasional lebih rendah.

Fisik

Punya banyak cabang fisik untuk mendukung operasional dan anjungan transaksi mandiri (ATM).

Online, tidak punya cabang fisik

Aksesibilitas

Memiliki jam operasional terbatas

Beroperasi secara 24/7 melalui platform digital

Tingkat Kenyamanan

Menawarkan kenyamanan untuk transaksi kompleks, terutama bagi nasabah prioritas dengan simpanan besar.

Menawarkan kenyamanan untuk transaksi harian, terutama  transaksi bersifat rutin. Serta diperkaya dengan AI untuk personalisasi transaksi nasabah serta efisiensi operasional. 

Dengan perbandingan fitur dan segmentasi pasar yang jelas, bank digital memiliki prospek cerah di negara dengan tingkat unbanked penduduk tinggi karena menawarkan fleksibilitas. Termasuk bagi sektor pekerja informal seperti pekerja gig, dan pemilik Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Apalagi Indonesia punya ceruk pasar besar di segmen ini. 

Mengutip data dari Euromonitor, Indonesia memiliki lebih dari 64,2 juta UMKM pada tahun 2024. Sektor ini menyumbang 60% terhadap PDB. Sayangnya, meski uang berputar di sektor ini cukup besar, segmen pasar ini masih termasuk dalam segmen unbanked

Riset Ernst & Young dan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) pada 2023 menyebut kebutuhan pembiayaan UMKM akan mencapai Rp4.300 triliun pada 2026. Akan tetapi, pendanaan yang berhasil disalurkan ke sektor ini hanya Rp1.900 triliun.

Artinya, hampir separuh kebutuhan pendanaan UMKM belum terpenuhi. Selain kebutuhan pembiayaan, UMKM juga membutuhkan layanan perbankan yang fleksibel, cepat, dan mudah diakses kapan saja. Arus kas UMKM cenderung cepat berputar daripada sektor formal. 

Prospek dan Risiko Bank Digital

Gemuknya jumlah populasi di Indonesia dan tingginya angka pekerja informal membuat industri pembiayaan tetap menarik. Phintraco Sekuritas menyebut bank digital memiliki posisi strategis untuk menangkap peluang segmen tersebut dan kebutuhan UMKM.

SUPA menyasar segmen digital ini, termasuk nasabah yang belum mendapat pelayanan dari bank konvensional. Dengan Salah satunya membuka akses perbankan untuk mitra Grab yang terdiri dari UMKM dan pekerja informal seperti pengemudi ojek online.

 

Prospek Bank Digital

Risiko Bank Digital

Demografi penduduk usia produktif meningkat, generasi muda semakin melek teknologi. 

Perlindungan data pribadi di Indonesia cenderung rentan. Bank digital juga rentan terhadap pencurian perangkat seluler yang dapat dieksploitasi.   

Transaksi digital melalui platform e-commerce Indonesia tertinggi di ASEAN, US$124 miliar (tahun 2025) 

Terdapat risiko penyalahgunaan artificial technology (AI), seperti penyalahgunaan algoritma yang dapat membuat kemampuan nasabah mengambil keputusan menurun . 

Populasi unbanked di Indonesia masih tinggi, 92 juta orang. 

Risiko keamanan siber, phising, malware, dan fraud lainnya.

Tumbuh suburnya pekerja sektor informal yang membutuhkan transaksi harian, seperti UMKM dan pekerja gig. 

Risiko kredit macet meningkat, terutama ketika melayani populasi unbanked yang selama ini tidak dilayani oleh bank konvensional.  

Di tengah prospek dan risiko umum ini, secara spesifik pasar perlu mencermati risiko spesifik SUPA. 

Pertama, terkait Loan to Deposit Ratio (LDR). Melansir data dari Phintraco Sekuritas, SUPA di atas ambang ideal yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

LDR SUPA saat ini berada di angka 99%, sementara rentang LDR ideal yang ditetapkan adalah 80%-90%. LDR adalah rasio untuk mengukur kemampuan bank dalam menyalurkan kredit berdasarkan simpanan yang dihimpun. Artinya, tingkat likuiditas SUPA cenderung ketat. 

Angka 99% ini sebenarnya sudah jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2024 LDR SUPA mencapai 376,29% dan tahun 2023 sebesar 316,89%. Ketatnya likuiditas ini disebabkan oleh segmentasi nasabah SUPA yang berasal dari sektor informal dan UMKM. 

Kedua, risiko merger induk usaha GoTo dan Supa. Saat ini GoTo adalah induk dari bank digital Jago. Jika GoTo merger dengan Grab yang juga pemegang saham SUPA, pasar perlu mengantisipasi perubahan dari entitas usaha bank digital tersebut. 

(dsp/aji)

No more pages