Logo Bloomberg Technoz

“Di offshore 2 dan di onshore 3. Tahun depan [ditargetkan sudah disetujui],” kata Djoko.

Adapun, Kufpec sedang mencari mitra untuk mengembangkan lapangan Natuna D-Alpha yang memiliki potensi kandungan gas mencapai 222 triliun kaki kubik atau trillion cubic feet (TCF).

Hanya saja, lapangan itu turut mencatat kandungan karbondioksida (CO2) yang tinggi mencapai 71%. Konsekuensinya, kandungan gas yang bisa dieksploitasi kemungkinan hanya sekitar 46 TCF.

Terkait dengan hal itu, Djoko membenarkan bahwa Kufpec berencana mengembangakn cadangan migas di kawasan tersebut.

Akan tetapi, dia enggan berkomentar apakah Kufpec akan turut mengajak Shell menjadi mitra untuk menggarap lapangan Natuna D-Alpha atau tidak.

“Kufpec as a leader dari Natuna D-Alpha, lagi cari partner,” ujar Djoko tanpa menjawab apakah Kufpec berencana mengajak Shell menjadi mitra di lapangan Natuna D-Alpha.

Sebelumnya, Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman membenarkan Shell dan Kufpec memang sudah melaporkan niat untku melakukan joint study di lima wilayah kerja (WK) migas di Indonesia ke Ditjen Migas dan SKK Migas.

Akan tetapi, Laode mengaku belum sempat melaporkan perkembangan tersebut ke Menteri ESDM. Dengan begitu, rencana Shell melakukan joint study dengan Kufpec dalam mengembangkan lapangan migas di Indonesia tinggal menunggu persetujuan Bahlil.

“Shell sama Kufpec? Mereka sudah mengajukan ke kita, tetapi kita belum lapor ke menteri persetujuannya. Kalau yang akan joint study sudah [lapor] ke kami [dan] ke SKK Migas, tetapi saya belum laporkan ke menteri,” kata Laode kepada awak media, di Kompleks Parlemen, Kamis (13/11/2025).

Laode mengaku belum dapat mengungkapkan lima wilayah kerja yang tengah dibidik oleh perusahaan migas global tersebut.

Namun, dia menegaskan bahwa Shell dan Kufpec melakukan joint study dengan komposisi kerja sama masing-masing 50:50 di lima lapangan migas Indonesia. Untuk itu, Laode menegaskan kedua perusahaan belum melakukan pembahasan terkait dengan participating interest (PI).

“Belum, kan kalau WK baru belum masuk ke PI masih joint study,” ucap Laode.

Sebagai catatan, Shell pernah terlibat di industri hulu migas Indonesia sebagai pemegang hak partisipasi di proyek Abadi Masela; ladang gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) raksasa di wilayah Tanimbar, Maluku.

Di Blok Masela, Shell bersama Inpex Corporation (Inpex) sebelumnya setuju untuk membangun fasilitas LNG dengan kapasitas tahunan sebesar 9,5 juta ton dalam kontrak pemulihan biaya senilai sekitar US$20 miliar.

Akan tetapi, pada 2020, Shell memutuskan untuk keluar dari proyek tersebut dengan menjual 35% hak partisipasinya seharga US$2 miliar.

Upaya Shell untuk melakukan divestasi dari Blok Masela sejak itu berlarut-larut, sehingga menciptakan ketidakpastian seputar kelanjutan pengembangan Lapangan Abadi yang menyimpan 360 miliar meter kubik gas itu.

(azr/wdh)

No more pages