Logo Bloomberg Technoz

Per pertengahan November, Rusia menguasai hampir seperlima wilayah Ukraina, dengan garis pertempuran membentang lebih dari 1.000 kilometer.

Presiden Vladimir Putin telah bertahun-tahun berupaya mengubah batas wilayah Ukraina. Ia meyakini Rusia seharusnya memiliki wilayah yang lebih luas, dan menilai runtuhnya Uni Soviet — yang mencakup Ukraina hingga 1991 — sebagai “kehancuran Rusia historis.”

Putin mencaplok Semenanjung Krimea pada 2014. Bagian dari provinsi Donetsk dan Luhansk di Ukraina timur — yang kemudian dikenal sebagai wilayah Donbas — telah berada di bawah kendali Rusia dan kelompok separatis pro-Kremlin sejak tahun tersebut, setelah Moskow memicu pemberontakan bersenjata pasca pencaplokan Crimea.

Sejak invasi besar-besaran pada Februari 2022, pasukan Rusia menduduki sebagian besar Donetsk dan Luhansk, serta merebut sejumlah wilayah di Kherson dan Zaporizhzhia, termasuk PLTN Zaporizhzhia, pembangkit listrik tenaga nuklir terbesar di Eropa.

Meski demikian, Rusia tidak pernah benar-benar menguasai seluruh empat wilayah tersebut. Namun pada September 2022, Putin mengumumkan pencaplokannya dan menyatakan wilayah itu akan menjadi bagian Rusia “selamanya.” Di bawah amendemen konstitusi 2020, Rusia dilarang melepaskan wilayah mana pun yang sudah dinyatakan sebagai wilayahnya.

Pertemuan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dengan Donald Trump di Gedung Putih. (Bloomberg)

Bagaimana perubahan perbatasan Ukraina dalam rencana damai 28 poin Trump?

Salinan proposal awal yang diperoleh Bloomberg menyebut bahwa Krimea serta wilayah Donetsk dan Luhansk akan “diakui sebagai wilayah Rusia secara de facto, termasuk oleh Amerika Serikat.” Ukraina akan diwajibkan menarik pasukannya dari area Donetsk yang masih dikendalikannya, yang kemudian akan dijadikan “zona penyangga netral terdemiliterisasi” yang diakui sebagai bagian dari Rusia secara internasional. Militer Rusia tidak akan diizinkan memasuki zona tersebut.

Sementara itu, kontrol atas Kherson dan Zaporizhzhia akan dibekukan sesuai garis kontak saat ini, yang berarti pengakuan de facto terhadap garis tersebut. Rusia akan melepaskan “wilayah lain yang disepakati” di luar lima area tersebut.

Seberapa besar kemungkinan Ukraina menyerahkan wilayah itu?

Rencana damai awal menyebut bahwa AS akan memberikan jaminan keamanan kepada Ukraina — dan akan menerima kompensasi — untuk mencegah agresi lanjutan Rusia.

Namun Ukraina menyimpan trauma dari janji-janji sebelumnya. Dalam Memorandum Budapest tahun 1994, Rusia, AS, dan Inggris menjanjikan jaminan keamanan — termasuk menghormati integritas teritorial Ukraina — sebagai imbalan Ukraina melepaskan senjata nuklirnya. Rusia melanggar janji itu 20 tahun kemudian saat mencaplok Krimea.

Zelenskiy dan para sekutu Eropa menegaskan bahwa pembahasan pertukaran wilayah hanya boleh dilakukan setelah perang berhenti di garis pertempuran saat ini. Jika Ukraina menyerahkan seluruh provinsi Donetsk, negara itu akan mundur ke posisi yang sulit dipertahankan jika agresi Rusia berlanjut, menurut Institute for the Study of War (ISW) yang berbasis di Washington.

ISW menyebut bahwa “sabuk benteng” Ukraina — garis pertahanan utama yang selama bertahun-tahun menahan laju Rusia — akan rentan direbut jika dibiarkan tanpa perlindungan dalam zona penyangga.

Zelenskiy telah berulang kali menegaskan Kyiv tidak akan pernah mengakui wilayah yang diduduki Rusia sebagai bagian dari Rusia. Ia mengacu pada konstitusi Ukraina tahun 1996 yang menyatakan bahwa wilayah negara adalah “tak terpisahkan dan tak dapat diganggu gugat.” Dokumen tersebut juga menyebut Crimea sebagai republik otonom yang merupakan “bagian yang tak terpisahkan dari Ukraina.”

Mayoritas warga Ukraina menolak menyerahkan wilayah apa pun, meski dukungan ini cenderung melemah seiring berlarutnya perang. Pada Mei 2022, sekitar 82% warga menolak memberikan wilayah meski perang berlangsung lebih lama, menurut survei KIIS. Pada awal Oktober tahun ini, angkanya turun menjadi 54%.

Apakah Zelenskiy punya pilihan?

Para pemimpin Eropa, bersama Kanada dan Jepang yang tergabung dalam G7, mendukung Zelenskiy dan menegaskan batas internasional tidak boleh diubah dengan kekuatan militer. Mereka menyebut rencana 28 poin itu sebagai “dasar yang membutuhkan penyempurnaan lebih lanjut.”

Ada sedikit kemajuan setelah pembicaraan antara AS dan Ukraina di Jenewa pada 23 November. Kedua pihak menyebut telah membuat “kemajuan berarti dalam menyelaraskan posisi.”

Namun Zelenskiy bisa saja menghadapi tekanan untuk menerima kesepakatan yang kurang ideal demi mengakhiri perang. Ia tengah dilemahkan isu korupsi yang melibatkan pejabat tinggi, sementara rakyat Ukraina mengalami pemadaman listrik bergilir dan serangan udara Rusia yang tak henti-henti menjelang musim dingin.

Di luar itu, pemerintahan Trump mengancam akan menghentikan bantuan senjata dan intelijen — yang sangat penting bagi pertahanan udara Ukraina — jika Zelenskiy tidak menerima kesepakatan, menurut laporan Bloomberg.

Sementara itu, prospek bantuan keuangan penting dari Uni Eropa untuk menopang upaya perang Ukraina juga terancam. Blok tersebut masih berselisih soal penggunaan aset Rusia yang dibekukan untuk menyediakan pinjaman €140 miliar.

Apa kepentingan Putin di wilayah Donbas?

Donbas, yang berasal dari nama Donets Coal Basin, merupakan pusat industri batu bara dan baja Ukraina — dan sebelumnya menjadi kawasan industri utama Uni Soviet.

Kegiatan industri di Donbas telah terganggu akibat pertempuran sejak 2014, dan banyak fasilitas hancur selama perang. Namun kawasan itu tetap memiliki cadangan batu bara besar yang penting bagi Rusia. Ukraina memiliki cadangan batu bara terbesar kedelapan di dunia pada 2023, menurut EIA AS, dan sebagian besar berada di Donbas.

Wilayah Ukraina yang diduduki Rusia, termasuk Donbas, juga memiliki sumber daya lain seperti lithium, titanium, dan grafit, meski belum jelas potensi komersialnya. Ada pula cadangan gas serpih di Donetsk yang sebelumnya akan dieksplorasi Shell bersama perusahaan Ukraina pada 2013, namun proyek itu batal.

Menyadari potensi mineral Ukraina, pemerintahan Trump telah meneken kesepakatan dengan pemerintah Zelenskiy tahun ini untuk memberi AS akses istimewa terhadap eksploitasi sumber daya alam Ukraina dan bagi hasil keuntungannya.

Wilayah Donetsk juga memiliki nilai strategis militer. Kota Mariupol yang berada di selatan memungkinkan Rusia membuka koridor darat dari perbatasan Rusia di sepanjang pesisir Laut Azov menuju Krimea.

Mengapa Putin berkeras mempertahankan Krimea?

Krimea memiliki nilai sejarah bagi Rusia. Wilayah ini sebelumnya dikuasai Kekaisaran Ottoman sebelum dicaplok Kekaisaran Rusia pada 1783 di era Catherine the Great.

Krimea tetap menjadi bagian Rusia hingga 1954, ketika pemimpin Soviet Nikita Khrushchev menyerahkannya kepada Ukraina yang masih menjadi bagian dari USSR. Saat itu, Krimea masih hancur akibat Perang Dunia II.

Pemimpin Soviet sebelumnya, Joseph Stalin, mendeportasi warga Tatar Krimea dengan menuduh mereka bekerja sama dengan Nazi. Ia kemudian mendorong warga Rusia pindah ke sana, membuat etnis Rusia menjadi mayoritas. Saat Putin mencaplok Krimea pada 2014, ia mengklaim melindungi warga berbahasa Rusia yang tinggal di sana, meski mereka adalah warga Ukraina.

Lokasi strategis Krimea membuatnya penting untuk perdagangan dan kekuatan militer. Wilayah ini menjadi kunci pengendalian aktivitas pelayaran di Laut Hitam, jalur penting untuk ekspor gandum dan komoditas lain.

Pelabuhan Sevastopol juga menjadi markas Armada Laut Hitam Rusia. Pelabuhan ini dalam, berair hangat, dan dekat dengan dua anggota NATO: Rumania dan Turki. Setelah merdeka pada 1991, Ukraina menyewakan pangkalan itu kepada Rusia.

Pencaplokan Krimea memungkinkan Putin menggunakannya sebagai titik awal invasi besar-besaran ke Ukraina. Jembatan Kerch yang dibuka pada 2018 menghubungkan Krimea dengan daratan Rusia dan menjadi jalur logistik vital bagi pasukan Rusia. Ukraina beberapa kali mencoba memutuskan jalur tersebut melalui serangan.

(bbn)

No more pages