Permintaan komentar yang dikirim kepada grup Adani tidak mendapat respons.
Gelombang gangguan operasi tambang di berbagai belahan dunia sepanjang tahun ini, termasuk di produsen besar seperti Freeport-McMoRan Inc., Hudbay Minerals Inc., Ivanhoe Mines Ltd., hingga raksasa BUMN Cile Codelco, menekan suplai ke smelter tembaga global.
Tekanan kian bertambah karena ekspansi agresif China dalam kapasitas peleburan telah memangkas margin keuntungan dan memaksa sebagian produsen di luar negeri untuk menekan output atau bahkan menutup operasi.
Konsekuensinya, biaya treatment and refining charges (TRC), tarif yang dibayarkan penambang untuk pemrosesan bijih, anjlok ke rekor terendah tahun ini, mencerminkan kesediaan smelter menerima margin makin tipis demi mengamankan pasokan.
Bagi pendatang baru seperti Kutch Copper, yang menargetkan pelipatgandaan kapasitas tahunan menjadi 1 juta ton dalam empat tahun ke depan, kelangkaan pasokan berarti biaya operasional yang lebih tinggi serta proses peningkatan kapasitas yang lebih panjang.
“Smelter Adani masih baru dan semestinya lebih efisien dibanding sebagian besar kompetitor, sehingga dalam jangka pendek fasilitas tersebut bisa melakukan ramp-up meski merugi,” kata analis Bloomberg Intelligence Grant Sporre, sambil menambahkan bahwa India juga bisa memberlakukan tarif lebih tinggi untuk melindungi industrinya.
Kebijakan itu berarti “rasa sakit jangka pendek demi keuntungan jangka panjang,” ujarnya.
BHP Group memasok 4.700 ton ke fasilitas tersebut, sementara pengiriman lainnya berasal dari Glencore Plc dan Hudbay, menurut data kepabeanan.
Operasi yang lambat di Kutch Copper menjadi pengingat tantangan besar yang dihadapi India dalam mendorong kemandirian logam.
Lonjakan permintaan dari sektor infrastruktur, listrik, dan konstruksi jauh melampaui kapasitas pemrosesan dalam negeri yang terbatas dan cadangan bijih nasional yang minim.
(bbn)































