Dia menyatakan Kementerian ESDM akan membentuk posko Nataru lebih awal dan diakhiri lebih panjang dari tahun sebelumnya.
“Hal ini kenapa demikian? Karena kita ketahui Natal tahun ini dan Lebaran nanti itu jaraknya berdekatan, sehingga stok harus kita jaga terus stabil sampai sepanjang akhir tahun dan menjelang 2026,” tegas Laode.
Sebelumnya, Komisi VI DPR RI menilai upaya PT Pertamina Patra Niaga untuk memperbaiki kualitas BBM perseroan membingungkan.
Komisi yang mengurusi perusahaan pelat merah itu menganggap Pertamina gagal memperbaiki kualitas BBM yang tecermin dari ramainya keluhan masyarakat sejak awal tahun ini.
Anggota Komisi VI dari Fraksi PDIP Mufti Anam membeberkan sebagian masyarakat belakangan beralih membeli BBM di jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta selepas kasus ‘Pertamax oplosan’ yang melibatkan petinggi Pertamina akhir Februari.
Hanya saja, Anam menambahkan, stok BBM SPBU swasta kosong imbas aturan impor yang ditetapkan Kementerian ESDM.
Konsekuensinya, kata Anam, masyarakat mesti kembali membeli BBM dari Pertamina. Belakangan, menurut dia, terdapat laporan ihwal kualitas BBM Pertamina yang rendah.
“Rakyat kami kemarin ketika BBM kita tidak berkualitas, mereka mencoba membeli ke swasta, ke Shell, ke BP. Tapi kemudian Shell, BP hari ini juga kemudian mereka tidak bisa berjualan secara bebas karena kuotanya dibatasi dan sebagainya,” kata Mufti dalam rapat dengan pendapat (RDP) Komisi VI dengan Pertamina, Rabu (19/11/2025).
“Dalam kacamata kami bahwa evaluasi produk BBM yang disampaikan tadi masih cukup ambigu begitu,” tegas Mufti.
Lebih lanjut, dia mencatat terdapat sejumlah peristiwa besar terkait dengan rendahnya kualitas BBM Pertamina. Pada Maret 2025, kata Mufti, terdapat ribuan kendaraan di Kalimantan Timur yang mengalami masalah usai mengisi BBM Pertamina.
Menurut Mufti, sebagian masyarakat sempat dijanjikan diberikan kompensasi oleh Pertamina namun beberapa di antaranya hingga kini tak kunjung menerima kompensasi yang dijanjikan.
“Pak Ega masih ingat saat itu masih jadi Plt. Kami sampaikan keluhan soal masyarakat di Kaltim, yang dekat dengan pusat kilang. Ternyata di sana banyak sekali ribuan motor mogok, ribuan mobil mogok, yang saat itu juga kami minta perbaikan, janjinya akan ada perbaikan,” ucap dia.
Kemudian, Mufti mencatat pada akhir Oktober 2025 terdapat 290 masyarakat yang mengadu ke Pertamina terkait dengan kualitas BBM Pertalite. Menurut Mufti, banyak masyarakat yang mengeluhkan BBM yang dibeli tercampur dengan air sehingga membuat kendaraan rusak.
“Dari 290 itu orang yang mau meluangkan waktu untuk buat laporan Pak. Tapi kalau kita lihat di media sosial, di media-media mainstream, banyak sekali, bahkan ribuan, yang dengan kacamata telanjang saja kita bisa membandingkan bahwa BBM kita ini ternyata banyak mengandung zat-zat lain seperti air dan sebagainya,” tegas dia.
(azr/wdh)




























