Tony memastikan seluruh produksi emas Freeport akan dijual ke PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam dan tidak akan diekspor sedikitpun.
Lebih lanjut, dia memprediksi harga tembaga pada tahun depan akan mencapai US$4,75 per pon, lebih tinggi dari proyeksi dalam RKAB sebelumnya sebesar 3,75% atau setara 127%.
Sedangkan harga emas, Tony memprediksi pada tahun depan akan mencapai US$4.000 per troy ons, setara 211% dari proyeksi dalam RKAB sebelumnya yang ditargetkan sebesar US$1.900 per troy ons.
“Sehingga proyeksinya peningkatan harga jual ini cukup tinggi dari tembaga maupun emas,” tegas dia.
Untuk itu, Tony memproyeksikan hasil penjualan perseroan dalam RKAB 2026 mencapai US$8,3 miliar atau setara 98% dari besaran proyeksi RKAB lama senilai US$8,5 miliar.
Dari besaran itu, proyeksi penerimaan negara yang disetorkan Freeport pada tahun depan mencapai US$2,9 miliar atau setara 107% dari proyeksi awal senilai US$2,7 miliar.
“Sehingga hasilnya proyeksi penjualan kita dari RKAB 2026 yang lama 8,5 miliar di yang baru dengan tingkat produksi yang berkurang sekitar 32% untuk tembaga dan juga 43% untuk emas. Akan tetapi, rencana pendapatan penjualan itu bisa hampir 100% sama dengan RKAB yang lama,” tegas Tony.
Sebelumnya, Freeport-McMoRan Inc. (FCX) memproyeksikan produksi tembaga dan emas dari PTFI pada 2026 mencapai sebanyak 1 miliar pon dan emas seberat 0,9 juta ons.
Proyeksi tersebut tercatat turun tipis dibandingkan dengan target produksi tahun ini sejumlah 1,67 miliar pon tembaga dan 1,6 juta ons emas.
Manajemen FCX dalam keterangan resminya menyatakan bahwa proyeksi tersebut didapatkan berdasarkan rencana pemulihan bertahap dan peningkatan produksi (ramp up) di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC).
Perseroan menargetkan tambang GBC dapat kembali dibuka pada kuartal II-2026.
“Berdasarkan rencana pemulihan bertahap dan peningkatan produksi, FCX memperkirakan produksi tembaga dan emas PTFI dari kawasan mineral Grasberg pada 2026 akan serupa dengan volume perkiraan 2025, yaitu sekitar 1,0 miliar pon tembaga dan 0,9 juta ons emas,” tulis manajemen FCX dalam keterangan resminya.
FCX memperkirakan produksi PTFI akan tetap meningkat sepanjang 2026 dan 2027 dengan produksi rata-rata tahunan sekitar 1,6 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas untuk periode tiga tahun 2027—2029.
Lebih lanjut, manajemen FCX mengungkapkan dua tambang bawah tanah lainnya yang tidak terdampak longsor di GBC, Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ) sudah beroperasi kembali pada akhir Oktober 2025.
Sebagai catatan, dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2025 Freeport, Kementerian ESDM menyetujui volume bijih yang ditambang Freeport sebanyak 212.000 ton per hari. Dalam bijih tersebut terdapat 1% kandungan tembaga dan 1 gram/ton emas.
Sementara itu, bijih yang ditambang secara anual ditargetkan sebanyak 75—77 juta ton untuk tahun ini.
Jumlah konsentrat yang diproduksi secara harian disetujui sebanyak 10.000 ton dan secara tahunan 3,5 juta ton, tergantung kadar tembaga yang ditambang. Kemudian, produksi tembaga tahun ini sebanyak 1,67 miliar pon, emas 1,6 juta ons, dan 5,7 juta ons.
(azr/wdh)




























