Menurut Roberth, Pertamina memang mendapatkan bioetanol yang sudah dibayarkan cukainya oleh produsen.
Dia menyatakan, pembebasan bioetanol fuel grade dari tarif cukai dapat tercapai jika mendapatkan dukungan dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
“Ini akan berkaitan dengan beberapa kementerian, kemudian bagaimana regulasi itu diatur di Kementerian ESDM, relaksasi cukai di Kementerian Keuangan,” ujar Roberth.
Sebelumnya, Ketua Umum Aspendo Izmirta Rachman menjelaskan bioetanol fuel grade yang diproduksi oleh produsen Indonesia sudah denaturasi dengan bahan kimia denatonium benzoat atau hidrokarbon sehingga sudah tidak dapat disuling kembali dan tidak akan dapat dikonsumsi.
Sebagai catatan saja, denatonium benzoat adalah zat yang bersifat pahit. Senyawa ini dianggap sebagai senyawa kimia paling pahit dengan berbagai kegunaan dalam pembuatan pembersih, perlengkapan otomotif, serta produk kesehatan dan kecantikan.
“Padahal bioetanol fuel grade yang keluar dari pabrik kami yang dikirim ke Patra Niaga sudah kami rusak, kami denaturasi dengan bahan kimia. Jadi gak bisa lagi disuling, kalau diminum mati. Jadi tolong keluarkan bioetanol fuel grade dari barang kena cukai,” kata Izmirta dalam forum yang sama.
“Saya ada lima usulan, yang nomor satu sudah saya sampaikan ke Pak Purbaya langsung semoga beliau mendengarkan. Jadi masalah pertama bioetanol fuel grade termasuk barang kena cukai,” ujar Izmirta.
Izmirta menjelaskan tarif cukai bioetanol dipatok sebesar Rp20.000 per liter, sehingga campuran 5% bioetanol dalam Pertamax Green 95 menaikkan harga bahan bakar nabati tersebut sebesar Rp1.000 per liter.
“Keluarkanlah bioetanol fuel grade dari barang kena cukai, karena cukainya satu liter Rp20.000. Membuat harga Pertamax Green lebih mahal Rp1.000 dari cukainya,” ucap dia.
Berdasarkan data di situs MyPertamina, per 1 September 2025 terdapat 163 jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Pertamina yang menjual BBM dengan campuran etanol 5% tersebut.
Pertamina memproyeksikan penjualan Pertamax Green 95 untuk Pulau Jawa sekitar 96.000 kiloliter (kl) dalam satu tahun.
Terkait dengan kebutuhan etanolnya, Pertamina mengkalkulasi bahwa Pertamax Green 95 membutuhkan sekitar 4.800–5.000 kl per tahun.
Saat ini, Pertamina Patra Niaga telah bermitra dengan penyedia bioetanol yakni PT Enero yang merupakan anak usaha PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang memiliki kapasitas produksi etanol sekitar 30.000 kl per tahun.
Sebagai catatan, BBM dengan campuran etanol 5% tersebut dijual Pertamina seharga Rp13.000 per liter per 1 November 2025. Harga tersebut hanya terpaut Rp100 per liter dibandingkan Pertamax Turbo yang memiliki RON 98 dan terpaut Rp800 per liter dengan Pertamax (RON 92).
(azr/naw)































