Namun sebagian besar perubahan itu merefleksikan kerugian di atas kertas, bukan uang nyata yang benar-benar keluar dari tangan investor.
Setelah gelombang likuidasi paksa pada 10 Oktober, ketika lebih dari US$19 miliar posisi kripto ber-leverage dilepas, kerapuhan pasar pun terungkap. Peristiwa itu memicu reaksi berantai berupa margin call, arus keluar dari produk exchange-traded, dan menurunnya minat pembeli baru.
“Investor kini seperti meraba-raba dalam gelap — mereka tidak punya arahan makro, jadi satu-satunya yang mereka lihat adalah apa yang dilakukan para whale on-chain, dan itu membuat mereka cukup khawatir,” kata James Butterfill, kepala riset CoinShares.
Lonjakan Bitcoin hingga sedikit di atas US$126.000 awal tahun ini ditopang dua pilar: ekspektasi pemangkasan suku bunga Bank Sentral atau Federal Reserve (The Fed) secara berulang dan meningkatnya adopsi institusional. Kedua narasi itu kini mandek sementara pembeli momentum mundur. Penurunan ini menjadi pukulan berat bagi perusahaan treasury aset digital, yang valuasinya dibangun di atas reli sebelumnya.
Sementara itu, Ether turun kembali ke bawah US$3.000. Setelah tertinggal dari Bitcoin pada paruh pertama reli tahun ini, Ether — token terbesar kedua — akhirnya naik hingga hampir US$5.000 pada Agustus dan sempat melampaui level tertingginya pada 2021. Namun seluruh kenaikan itu kini telah hilang.
“Saya rasa kita sudah lebih dekat pada akhir fase penjualan ketimbang awalnya, tetapi pasar sedang tidak nyaman dan kripto masih bisa turun lebih jauh sebelum menemukan level dasar untuk bangkit kembali,” kata Matthew Hougan, chief investment officer Bitwise Asset Management yang berbasis di San Francisco.
(bbn)
































