“Pernyataan dan dindiran dalam artikel tersebut sepenuhnya salah,” kata juru bicara Alibaba menanggapi pertanyaan dari Bloomberg News. Perusahaan mempertanyakan “motif di balik bocoran anonim tersebut,” kata juru bicara tersebut, menambahkan bahwa “operasi humas jahat ini jelas berasal dari suara yang tidak bertanggung jawab yang berusaha merusak kesepakatan perdagangan terbaru Presiden Trump dengan China.”
Alibaba tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai hubungannya dengan PLA, menurut surat kabar tersebut. Gedung Putih dan CIA menolak memberikan komentar kepada FT.
Kedutaan Besar China di Washington menuduh AS melakukan “distorsi fakta” terkait klaim tersebut, dengan mengatakan China sedang memperbaiki undang-undang untuk melindungi privasi pribadi dan data dalam aktivitas kecerdasan buatan (AI), seperti dilaporkan FT.
Beijing menghormati dan melindungi privasi dan keamanan data sesuai dengan hukum, kata kedutaan seperti dikutip dalam laporan tersebut.
Alibaba, dalam upayanya untuk mengejar pesaing di bidang AI, sedang mempersiapkan pembaruan signifikan atas aplikasi AI utamanya agar lebih mirip dengan ChatGPT milik OpenAI. Pesaing Alibaba, termasuk startup Minimax, sedang meluncurkan model AI yang semakin canggih, masing-masing berusaha mengungguli pemimpin industri seperti OpenAI dan DeepSeek dalam hal kinerja.
Alibaba dan perusahaan China lainnya, seperti Huawei Technologies Co. dan ByteDance Ltd. (induk dari platform media sosial TikTok), menghadapi pengawasan yang semakin ketat dari pembuat kebijakan di Washington yang melihat perusahaan-perusahaan tersebut terkait dengan pemerintah Beijing dan ancaman bagi keamanan nasional AS. Huawei telah masuk daftar hitam di AS, sementara TikTok berisiko dilarang dari pasar Amerika Serikat berdasarkan undang-undang 2024 kecuali ByteDance melepas operasi TikTok di AS.
Anggota Kongres AS sebelumnya telah mengekspresikan kekhawatiran terkait kemitraan jangka panjang Alibaba dengan Komite Olimpiade Internasional, dengan alasan hal itu berisiko bagi Olimpiade 2028 di Los Angeles.
Pada bulan September, para pemimpin komite DPR AS yang menangani urusan China dan keamanan dalam negeri memperingatkan agar tidak memperbolehkan Alibaba mengakses infrastruktur lokal selama Olimpiade Musim Panas, dengan menuduh perusahaan tersebut sebagai “penyedia kunci” bagi operasi pengawasan dan intelijen pemerintah China.
“Penyediaan infrastruktur cloud, e-commerce, tiket, dan layanan siaran oleh Alibaba dalam Olimpiade sebelumnya telah memberikan perusahaan akses yang signifikan terhadap sistem dan personel,” tulis anggota DPR John Moolenaar dan Andrew Gabarino dalam surat kepada Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem.
“Risiko ini semakin meningkat karena pengaruh Partai Komunis China (PKC) terhadap perusahaan-perusahaan berbasis di Tiongkok dan ketegangan geopolitik yang semakin meningkat seputar platform teknologi kritis,” ia menambahkan.
Moolenaar memimpin Komite Khusus DPR AS tentang China, sementara Gabarino memimpin komite keamanan dalam negeri.
Awal tahun ini, Alibaba termasuk di antara hampir dua puluh perusahaan China yang diminta Moolenaar untuk dihapus dari bursa keuangan AS. Dalam surat Mei kepada Komisi Sekuritas dan Bursa, ia mengatakan hubungan erat Alibaba dengan militer dan badan intelijen China mengancam keamanan nasional AS, dan mendesak regulator untuk menghentikan perdagangan dan menghapus saham perusahaan tersebut.
(bbn)































