Logo Bloomberg Technoz

Sementara itu, trendline sebelumnya menjadi resistance psikologis potensial di Rp16.680/US$. Kemudian target penguatan lanjutan ada di Rp16.630/US$.

Menunggu Kabar dari AS

Para pemodal cenderung makin berhati–hati dan memilih mengurangi risiko, mengantisipasi data ekonomi penting dari Amerika Serikat, yang tertunda. Terlebih lagi, Bloomberg Economics menyebut, gangguan tersebut berpotensi berdampak hingga enam bulan ke depan, mengingat metodologi estimasi dalam perhitungan yang terkait.

Ketiadaan indikator utama—seperti angka pengangguran dan Indeks Harga Konsumen (IHK) data Oktober—memperkuat ketidakpastian seputar kebijakan moneter. Gedung Putih mengonfirmasi laporan tersebut kemungkinan besar tidak akan dirilis akibat penutupan (shutdown) pemerintah.

Pasar beralih fokus ke The Fed dan prospek pemotongan suku bunga, saat Kongres bersiap membuka kembali pemerintah.

“Biarpun pasar memperhitungkan tamatnya masa–masa shutdown, masih ada tantangan yang lebih besar di depan kita, yaitu kembalinya semua data ekonomi yang kita lewatkan,” terang Michael Landsberg dari Landsberg Bennett Private Wealth Management, seperti yang dilaporkan Bloomberg News.

Ketua DPR Mike Johnson menyakini Undang-undang (UU) tersebut—kompromi yang sulit dicapai di Senat dan disetujui Presiden Donald Trump—akan segera disahkan. Namun, dia harus menjaga agar partainya yang terbelah tetap solid menghadapi penolakan keras dari Partai Demokrat di DPR, di mana para pemimpinnya mendesak mereka agar menentang UU tersebut.

Karena shutdown menunda data ekonomi utama, kata Seema Shah dari Principal Asset Management, tantangan sebenarnya bukanlah dampak jangka pendek terhadap pertumbuhan—melainkan meningkatnya kesulitan bagi investor dan The Fed untuk mengukur prospek ekonomi.

“Saya mendapat informasi, sebagian survei memang tidak pernah diselesaikan, sehingga mungkin kita tidak akan pernah benar–benar tahu apa yang terjadi pada bulan itu,” jelas Direktur Ekonomi Nasional Gedung Putih, Kevin Hassett, kepada CNBC pada Selasa, mengutip Bloomberg.

“Kita akan berada dalam kondisi yang cukup samar-samar untuk sementara waktu hingga lembaga-lembaga statistik kembali beroperasi.”

Ketiadaan data ekonomi saat ini membuat para pembuat kebijakan di Federal Reserve “terbang buta pada periode yang sangat krusial”. Pejabat The Fed diagendakan bertemu pada 9–10 Desember untuk memutuskan apakah akan menurunkan suku bunga untuk ketiga kalinya tahun ini.

David Wilcox dari Bloomberg Economics memaparkan, penutupan pemerintahan federal AS telah mengganggu aktivitas lembaga–lembaga yang bertanggung jawab mengukur kondisi perekonomian.

“Akibatnya, para pengambil keputusan ekonomi harus beroperasi dengan tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi dari biasanya,” jelasnya dalam riset terbaru, Kamis.

(fad/aji)

No more pages