Uji laboratorium dilakukan di Lemigas bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM meliputi pengujian karakteristik bahan bakar, chassis dynamometer, filter clogging, serta uji presipitasi dan stabilitas penyimpanan.
Dia menjelaskan pengujian tahap awal tersebut juga mencakup campuran bahan bakar solar dengan berbagai komposisi bahan baku minyak kelapa sawit. Menurutnya, solar dengan kadar sulfur rendah lebih ideal digunakan dalam campuran tersebut.
Dalam pemaparannya, Eniya mengatakan ada tiga komposisi yang diuji yakni 35% fatty acid methyl ester (FAME) dengan 15% hydrotreated vegetable oil (HVO), 40% FAME dengan 10% HVO, serta 50% FAME murni.
“Dalam waktu enam bulan ke depan, kami akan melakukan uji pemanfaatan B50 dalam kondisi nyata di lapangan,” tuturnya.
Uji coba ini meliputi road test, kajian kecukupan dan keberlanjutan pendanaan, ketersediaan CPO, serta peningkatan infrastruktur pendukung.
“Kami berencana melakukan pengujian lapangan untuk memastikan kesiapan teknis standar B50, termasuk memastikan kualitas FAME yang digunakan agar bisa dicampurkan ke solar sebagai bahan bakar utama,” jelas Eniya.
Sebagai catatan, Kementerian ESDM memprediksi Indonesia membutuhkan tambahan produksi 4 juta kiloliter (kl) FAME untuk menjalankan mandatori B50 pada 2026.
Kementerian ESDM mencatat total produksi biodiesel untuk memenuhi kebutuhan B40 berada sekitar 15,7 juta kl. Untuk B50, ESDM memprediksi program tersebut akan menghabiskan biodiesel sekitar 19 juta hingga 20 juta kl.
Dengan begitu, Indonesia membutuhkan tambahan produksi sekitar 4 juta kl FAME untuk menjalankan B50.
Adapun alokasi pendanaan biodiesel pada 2025 hanya dibatasi untuk segmen public service obligation (PSO) sebanyak 7,55 juta kl dari total target produksi B40 tahun ini sebanyak 15,6 juta kl.
Sementara itu, untuk B50, pemerintah masih menyusun besaran insentif yang akan dialokasikan seiring dengan berjalannya pengujian teknis B50.
(mfd/wdh)
































