Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu membeberkan tingkat pengembalian investasi atau internal rate of return (IRR) yang rendah menjadi penyebab mandeknya pengerjaan proyek Kilang Tuban.

Todotua menampik tersengalnya progres FID proyek kilang itu disebabkan karena sanksi anyar yang diterima perusahaan Rosneft dari Amerika Serikat (AS) sebagai bagian dari upaya memberedel pendanaan invasi Kremlin ke Ukraina.

Menurut Todotua, konsorsium yang terlibat di proyek GRR tersebut belum sepakat soal perhitungan keekonomian dan tingkat pengembalian investasi proyek.

“Kalau itu menurut saya tidak ada kaitannya dengan sanksi-sanksi Rusia, tetapi lebih kepada strategi keekonomiannya. Ada basis lain IRR yang disepakati dan memang dilihat strategik itunya,” kata Todoua kepada awak media di Jakarta, Selasa (28/10/2025).

“Bicara hanya murni bisnisnya aja,” tuturnya.

Pada kesempatan terpisah, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menyebut pemerintah tengah mengevaluasi nasib keputusan investasi akhir Kilang Tuban, menyusul sanksi baru AS terhadap Rosneft.

FID Rosneft di proyek GRR tersebut semestinya ditargetkan rampung pada kuartal IV-2025.

Yuliot mengatakan pemerintah akan meminta kepastian kepada Rosneft terkait dengan kesanggupan raksasa migas milik Rusia itu untuk melanjutkan komitmen investasinya di Kilang Tuban.

“Jadi ya kita evaluasi lagi, bagaimana pemenuhan komitmen yang terkait dengan sanksi,” kata Yuliot ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (24/10/2025).

Yuliot mengatakan kementeriannya bakal menimbang alternatif partner baru untuk masuk ke proyek Kilang Tuban apabila Rosneft tidak dapat meneruskan proyek.

Adapun, proyek kilang anyar itu dikerjakan oleh PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) memegang 55% saham dan sisanya diimpit oleh Rosneft lewat afiliasi bisnisnya Rosneft Singapore Pte Ltd (dahulu Petrol Complex Pte Ltd).

Nilai proyek GRR Tuban diprediksi mencapai US$24 miliar dan dirancang untuk memiliki kapasitas olahan minyak mentah 300.000 barel per hari (bph). Hingga saat ini pembangunan proyek itu masih tersendat lantaran menanti keputusan investasi akhir dari Rosneft.

PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) melaporkan proyek Kilang Tuban masih dalam fase pengembangan yakni pembukaan lahan sebelum keputusan FID yang ditargetkan pada kuartal IV-2025 tuntas.

Setelah FID, megaproyek kilang yang digarap oleh anak usaha raksasa migas Rusia melalui usaha patungan bersama PT Pertamina (Persero) itu akan memasuki tahapan engineering, procurement, and construction (EPC).

(azr/wdh)

No more pages