“Kemungkinan seperti itu polanya. 100% plus 10%. Tapi kan referensi tahunnya beda kan. Kalau kemarin tahun 2024, sekarang tahun 2025,” kata dia.
Laode mengungkap gambaran kebutuhan BBM di SPBU swasta sepanjang tahun ini baru kelihatan sekitar akhir November, sebab akan terdapat momen peningkatan mobilitas masyarakat di momen natal dan tahun baru (Nataru).
“Kita masih hitung prognosanya. Prognosa kan berarti kita harus hitung sampai dengan Desember tuh dia berapa sih,” ucap Laode.
Di sisi lain, Laode mensinyalir, operator pengelola jaringan SPBU swata mesti kembali membeli BBM dasaran atau base fuel dari Pertamina jika jatah kuota impor telah terserap seperti yang terjadi pada akhir Agustus tahun ini.
“Ya kolaborasi. Makanya sudah kita ajarkan dari sekarang untuk adanya kolaborasi tersebut,” kata dia.
Diborong BP-AKR
Belakangan, operator SPBU BP-AKR PT Aneka Petroindo Raya (APR) kembali membeli bahan bakar minyak (BBM) dasaran atau base fuel dari PT Pertamina Patra Niaga (PPN) sebanyak 100.000 barel. Rencanannya, tambahan pengadaan base fuel itu akan tiba akhir bulan ini.
Adapun, BP-AKR telah mengamankan pasokan sebesar 100.000 barel BBM dasaran dari Pertamina awal bulan ini.
Dengan demikian, BP-AKR kembali menjual bensin di jaringan SPBU yang sempat terhenti akibat kekosongan stok sejak akhir Agustus 2025.
Presiden Direktur BP-AKR Vanda Laura memastikan konsumen tak perlu khawatir dengan kualitas BBM yang mereka jual, meskipun pasokan utamanya kini berasal dari pembelian melalui mekanisme business to business (B2B) dengan Pertamina Patra Niaga.
BP-AKR menjamin bahwa base fuel RON 92 impor yang didapatkan dari Pertamina Patra Niaga telah melalui serangkaian proses uji kualitas yang ketat. Proses ini melibatkan pengawasan dari surveyor independen yang tepercaya.
“Prioritas kami jelas, BP 92 kembali tersedia dan kualitas produk yang dihadirkan konsisten terjaga,” ujar Vanda dalam keterangan resminya, Jumat (31/10/2025).
Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan base fuel yang dipasok ke BP-AKR telah melewati berbagai tahapan yang sesuai dengan good corporate governance (GCG).
Dia menyebut tender penyuplai yang dilakukan telah menerapkan aspek GCG dan konfirmasi berulang dengan PT APR.
Selain itu, terdapat beberapa tahapan lainnya yang sudah terpenuhi, yakni; pelaksanaan joint surveyor, serta mekanisme open book untuk negosiasi aspek komersial.
Dengan begitu, Roberth memastikan bahwa BBM yang dipasok ke APR telah memenuhi seluruh persyaratan dari APR sebagai bentuk komitmen tindak lanjut atas arahan pemerintah.
(azr/naw)






























