Logo Bloomberg Technoz

“Sepuluh tahun lalu banyak orang bekerja keras demi mendapat sorotan dan pengakuan di media sosial. Tapi sekarang, mereka lebih memilih fokus pada kehidupan yang bermakna dan batin yang tenang,” ujarnya, di Jakarta, Kamis (6/11).

Rian menambahkan, kelas menengah kini lebih menekankan keseimbangan diri daripada pencitraan. “Kekuatan mereka sekarang ada pada feeling good ketimbang looking good. Mereka ingin merasa cukup dan stabil, bukan sekadar terlihat sukses,” katanya.

Perubahan nilai ini juga tampak dari cara mereka memaknai komunitas dan hubungan sosial. Jika dulu komunitas menjadi tempat aktualisasi diri, kini berubah menjadi ruang pencarian ketenangan dan dukungan emosional. “Mereka memperluas jaring pengaman baru di lingkungannya, bukan hanya bergantung pada keluarga atau pekerjaan,” ujar Rian.

Group CEO Hakuhodo International Indonesia, Farhana E. Devi Attamimi, menuturkan contoh menarik terlihat dari perilaku konsumsi rokok. “Selama ini rokok menjadi semacam lencana sosial — orang membawa merek paling mahal saat nongkrong dengan teman. Tapi sekarang justru terbalik,” ungkapnya.

“Mereka menggunakan rokok terbaik bukan untuk pamer, tapi saat waktu pribadi, sebagai hadiah untuk diri sendiri. Fenomena ini menunjukkan perubahan besar: dari konsumsi untuk validasi sosial menjadi konsumsi untuk keseimbangan mental,” lanjut Devi.

Hakuhodo menyebut kelompok ini sebagai “Dewasa Tengah” — kelas menengah yang tidak lagi didefinisikan oleh gaya hidup atau status sosial, melainkan oleh cara mereka memaknai kebahagiaan, stabilitas, dan harga diri. “Sekarang dianggap mampu itu bukan soal terlihat kaya, tapi tentang punya ketenangan dan kendali atas hidup sendiri,” tutup Rian.

(dec/spt)

No more pages