Trump terakhir kali bertemu Kim pada tahun 2019 pada masa jabatan pertamanya. Dalam kunjungan terakhirnya ke Asia, Trump mengaku tetap terbuka untuk bertemu dengan pemimpin Korut tersebut lagi, tetapi jadwalnya yang bentrok.
"Didukung oleh semakin eratnya hubungan dengan Rusia dan menguatnya hubungan dengan China, Korea Utara mungkin berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan AS," papar Park Sun-won, anggota parlemen lain yang diberi informasi oleh NIS, kepada wartawan.
"NIS melihat kemungkinan besar terjadinya KTT antara Korea Utara dan AS," imbuhnya.
Kim juga membuka peluang pertemuan lanjutan dengan Trump, meski ia bersikeras agar Washington dan Seoul mencabut tuntutan denuklirisasi sebagai prasyarat. Kembalinya keterbukaan terhadap perundingan menggarisbawahi upaya Korut untuk merumuskan ulang diplomasi guna melegitimasi arsenal nuklirnya sebagai senjata permanen.
KTT antara Trump dan Kim sebelumnya gagal meyakinkan Pyongyang untuk meninggalkan ambisi nuklirnya. Sejak itu, Korut memperluas program persenjataannya dan muncul sebagai sekutu utama Presiden Rusia Vladimir Putin, memberikan dukungan untuk perang Moskwa melawan Ukraina.
NIS memberi tahu para anggota parlemen bahwa Korut tampaknya telah menerima bantuan Rusia untuk meningkatkan presisi rudal dan sedang mengamati dengan saksama apakah teknologi militer sensitif sedang ditransfer setelah pejabat pertahanan Korut mengadakan serangkaian kunjungan ke Rusia.
Lee mengungkap sekitar 10.000 tentara Korut yang dikirim ke Rusia telah dikerahkan ke dekat perbatasan Ukraina, sementara sekitar 1.000 tentara terlibat dalam operasi pembersihan ranjau. 5.000 tentara konstruksi telah dipindahkan ke Rusia secara bertahap sejak September untuk mengerjakan rekonstruksi.
AS dan sekutunya menyuarakan kekhawatiran mengenai apa yang mungkin diterima Kim sebagai imbalan atas bantuannya kepada Rusia. Bulan lalu, Kim memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-20 terbarunya yang dirancang untuk menyerang daratan AS dalam parade militer.
Korsel yakin ICBM baru tersebut memiliki bodi yang lebih ringan, daya dorong yang ditingkatkan, dan ruang muatan yang lebih besar, menunjukkan potensi kemampuan untuk membawa hulu ledak ganda atau yang lebih besar.
NIS menilai Korut juga telah membuat kemajuan pesat dalam kemampuan drone-nya, yang dapat menjadi ancaman serius bagi Korsel.
Namun, badan intelijen tersebut yakin bahwa Korut masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai kemampuan operasional penuh dalam program rudal hipersonik, satelit pengintai, dan kapal perusak. Pengembangan sistem senjata bawah lautnya juga masih lamban.
(bbn)





























