Zainal mengungkapkan selain mudah diakses, warung Madura memiliki harga kompetitif dibanding ritel modern. Bahkan, kata dia, kebanyakan warung madura menetapkan profit [laba] tidak lebih dari 10%.
"Banyak item ritel di kita sedikit lebih murah. Karena kita menetapkan profit, tidak boleg lebih dari 10%, bahkan untuk kategori-kategori tertentu di bawah 10%," sebutnya.
Sebelumnya, ramai pembahasan mengenai pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang menyebut ritel-ritel modern yang kini menggurita di seluruh Indonesia menjadi pembunuh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Zainal menanggapi bahwa pernyataan itu mungkin tepat dilontarkan pasa 10 atau 15 tahun lalu.
"Kalau sekarang sudah lebih dari 22 ribu Indomaret dan lebih dari 23 ribu Alfamart. Sudah menyatu dengan kehidupan ekonomi masyarakat," sebutnya.
"Bagi kami, warung Madura, prinsip rezeki sudah ada takarannya. Rezeki semut, nggak mungkin tertukar dengan rejeki gajah. Tinggal kita memperbanyak semut-semut saja. Biar bisa bersaing dengan gajah," jelasnya.
Ritel Modern Sangkal 'Bunuh' UMKM
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) Budihardjo Iduansjah menyangkal pernyataan yang menyebutkan ritel modern menjadi "pembunuh" Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
"Kami menyangkal maksudnya bukan membunuh, mungkin ada kesalahpahaman. Artinya membunuh itu kan mematikan, ternyata kan antara warung tradisional dengan segala keciriannya dan minimarket agak berbeda," katanya pada Bloomberg Technoz, dikutip Kamis (30/10/2025).
Katanya, ritel modern merupakan gaya hidup masyarakat zaman sekarang ini. Ia melanjutkan, yang menjadi pembeda antara warung tradisional dan ritel modern adalah pembukuan yang rapih hingga harga yang tertata.
"Sebenarnya ritel modern itu bukan membunuh. Itu adalah gaya hidup, kita juga setuju bahwa ada keseimbangan ritel modern dan tradisional. Kami selalu mematuhi peraturan pemerintah, bahwa Alfamart dan Indomaret banyak membantu merek lokal," tambahnya.
Kata Budi, ritel modern telah banyak mendistribusikan produk lokal. Bahkan, volumenya mencapai 80% dengan berbagai kemudahan yang diberikan.
Hal yang sama juga diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin. Ia menyebut, ritel modern sudah membantu memasarkan produk UMKM sejak puluhan tahun lalu.
"Pertama, saya sebagai Aprindo, saya nggak ngerti UMKM [yang dimaksud] siapa. Saya nggak mau berdebat soal itu, Aprindo sudah sangat akrab dengan keadaan membantu UMKM. Bahkan produk UMKM ada gondola sendiri [di ritel modern]," katanya.
(ain)





























