Budi memaparkan, pada 2024 AS merupakan negara tujuan ekspor utama nomor 2 bagi Indonesia, dengan pangsa pasar sebesar 9,94% atau senilai US$26,3 miliar. Sementara ekspor hingga September 2025 mencapai US$23,03 miliar. Impor senilai US$9,55 miliar dan neraca dagang US$13,48 miliar.
“Ya kita itu pangsa ekspor kita ke Amerika cukup besar Jangan sampai ini hilang. Kita mendapatkan tarif 19%. Kalau sekarang sebelum implementasi sudah naik harapan kami ketika nanti diterapkan 19% justru akan lebih meningkat,” ujarnya.
Dia juga berpandangan banyak negara lain yang melakukan ekspor ke AS mendapatkan tarif lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Jika Trump mulai memberlakukan tarif tersebut seharusnya RI akan lebih dilirik.
Di sisi lain, Budi juga menepis lambatnya negosiasi tarif AS dipengaruhi oleh government shutdown di AS beberapa waktu lalu. Menurutnya, saat ini AS berlomba-lomba impor produk RI sebanyak-banyaknya sebelum tarif resiprokal diimplementasikan. Akan tetapi, dia menilai kondisi tersebut baik untuk RI.
“Sekarang ketika mereka berlomba, kan mereka juga bersaing dengan negara lain dengan tarif yang sama kan, 10% kan baseline-nya, artinya sama, ya kan sama saja mereka mengimpor dari Indonesia banyak. Nah nanti ketika tarif resiprokal ada itu kan bervariasi, Indonesia juga cenderung lebih rendah kan dibanding yang lain,” jelas Budi.
Dalam kegiatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah menargetkan negosiasi tarif perdagangan dengan AS rampung sebelum akhir tahun ini.
Airlangga memastikan pembahasan akan dilanjutkan pada akhir November mendatang, usai pelaksanaan KTT APEC 2025 di Korea Selatan. Ketika ditanya ihwal penyelesaian negosiasi dengan AS yang diharapkan rampung akhir tahun ini, dia mengatakan pihaknya menargetkan hal yang sama.
"Ditargetkan seperti itu," ujar Airlangga ketika ditanya ihwal penyelesaian negosiasi dengan AS rampung akhir tahun ini di sela acara CEO Insight.
Diketahui, RI saat ini masih melakukan negosiasi untuk beberapa produk yang tidak dimiliki oleh AS.
Tim Negosiasi Tarif Indonesia-AS meyakini bahwa produk-produk yang tidak dapat diproduksi oleh AS, seperti kelapa sawit, kakao, dan karet, akan mendapatkan tarif sebesar nol persen.
Sebelumnya, Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang mencapai kesepakatan pasca diterbitkannya pernyataan resmi Presiden AS pada 7 Juli 2025. RI mendapat penurunan tarif menjadi 19% dari sebelumnya 32%.
(ell)































