Logo Bloomberg Technoz

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan Dampaknya pada Pasar Global

Advertorial
19 March 2026 10:38

Selat Hormuz. (Google Map)
Selat Hormuz. (Google Map)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Iran telah secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu keluar hampir 20 persen dari total pasokan minyak dunia, dan mengancam akan menembak setiap kapal yang mencoba melewatinya.

Ancaman tersebut langsung mengguncang pasar global — dari harga minyak mentah hingga pola forex trading — ketika pedagang dan investor bergegas merespons lonjakan risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan energi. Selat ini tidak hanya krusial bagi ekspor minyak mentah, tetapi juga menjadi titik utama bagi pengiriman gas alam cair dan produk energi lainnya.

Seorang penasihat senior kepada komandan Korps Garda Revolusi, Ebrahim Jabari, mengatakan bahwa selat itu “ditutup” dan pihaknya akan “membakar” kapal apa pun yang berusaha melintasinya, sebuah pernyataan paling keras yang pernah dilontarkan Iran dalam eskalasi ketegangan baru antara Teheran dan aliansi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Ancaman tersebut terjadi setelah serangkaian serangan udara dan balasan rudal yang memperluas konflik di kawasan Teluk, termasuk serangan terhadap basis militer Amerika dan sekutunya di Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Kuwait.


Harga minyak mentah langsung bereaksi. Kontrak Brent crude melonjak lebih dari 9 persen, sempat menembus level lebih dari USD 80 per barel, sementara indeks minyak WTI di pasar Amerika naik lebih dari 7 persen dalam hari yang sama. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pedagang bahwa setiap gangguan nyata terhadap arus pasokan energi global dapat memicu kenaikan harga yang lebih tajam lagi.

Analis pasar energi memperingatkan bahwa jika penutupan jalur ini berlanjut atau eskalasi konflik makin parah, harga minyak bisa mencapai puncak yang belum terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Gabungan faktor ini — harga energi yang meningkat, ketidakpastian geopolitik, dan penilaian risiko yang berubah cepat — menyebabkan gelombang reaksi lintas kelas aset, termasuk meningkatnya permintaan untuk komoditas aman seperti emas dan pergeseran aliran modal di pasar valuta asing.