Logo Bloomberg Technoz

Fasilitas Energi Jadi Sasaran, Konflik Iran-Israel Kian Memanas

News
19 March 2026 09:30

Warga Iran membakar bendera AS dan Israel di Teheran pada 17 Maret. (Sumber: Getty Images via Bloomberg)
Warga Iran membakar bendera AS dan Israel di Teheran pada 17 Maret. (Sumber: Getty Images via Bloomberg)

Josh Wingrove, Jennifer A. Dlouhy, Eltaf Najafizada dan Devika Krishna Kumar - Bloomberg News

Bloomberg, Aksi saling serang antara Iran dan Israel yang menargetkan fasilitas energi vital di Timur Tengah semakin memperkeruh upaya Amerika Serikat (AS) dalam meredam gejolak pasar. Konflik yang kini memasuki pekan ketiga ini menunjukkan tanda-tanda eskalasi yang kian mengkhawatirkan.

BUMN energi Qatar, QatarEnergy, melaporkan bahwa Kota Industri Ras Laffan—kompleks yang menaungi kilang ekspor gas alam cair (LNG) terbesar di dunia—mengalami "kerusakan luas" akibat serangan Iran. Meski tidak merinci detail kerusakan, serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Teheran memperingatkan bahwa sejumlah situs energi di negara-negara Teluk akan menjadi "target sah" menyusul serangan Israel ke ladang gas utama Iran.


Lembaga berita semi-resmi Tasnim melaporkan pada Rabu bahwa fasilitas di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) kini masuk dalam daftar risiko serangan udara Iran. Seiring operasi militer yang terus berlanjut tanpa tanda-tanda mereda, harga minyak mentah Brent melonjak mendekati US$110 per barel.

Eskalasi ini kian menyulitkan langkah Donald Trump untuk membendung lonjakan harga minyak. Trump bahkan telah menangguhkan mandat pengiriman barang berusia seabad demi menekan biaya transportasi energi di AS. Sementara itu, Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan bertemu dengan para eksekutif minyak pada Kamis ini untuk membahas krisis pasokan.