Emas Stabil Usai Turun 6 Hari Beruntun Akibat Risiko Inflasi
News
19 March 2026 08:40

Yihui Xie - Bloomberg News
Bloomberg, Harga emas mulai stabil pada perdagangan Kamis (19/3) pagi setelah sempat tersungkur hampir 4% pada sesi sebelumnya. Pelemahan ini dipicu oleh peringatan bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) bahwa perang di Timur Tengah dan lonjakan harga energi dapat kembali menyulut inflasi.
Harga emas batangan tertahan di kisaran US$4.835 per ons di awal perdagangan, menyusul penurunan harian selama enam hari berturut-turut—tren pelemahan terlama sejak akhir 2024. Dalam pertemuan Rabu kemarin, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan dan memproyeksikan hanya satu kali pemangkasan tahun ini. Namun, Gubernur The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa penurunan bunga baru bisa dilakukan jika ada kemajuan nyata dalam meredam inflasi. Pejabat The Fed menyatakan dalam rilis resminya bahwa konflik tersebut membuat perkembangan ekonomi AS menjadi "tidak pasti."
Lonjakan harga minyak terjadi setelah Iran dan Israel saling melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas energi paling vital di kawasan Teluk Persia. Memasuki pekan ketiga perang, lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi yang membuat peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed dan bank sentral lainnya semakin menipis. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil bunga.
Meski secara akumulatif emas masih menguat sekitar 12% sepanjang tahun ini, momentum kenaikannya mulai tertahan dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini disebabkan oleh memudarnya prospek pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, serta aksi jual oleh sejumlah investor untuk memenuhi margin call pada portofolio mereka yang lain. Sebagai catatan, emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$5.595 per ons pada akhir Januari lalu.






























