Kenaikan ini terutama diberikan kepada karyawan yang mampu memberikan arahan, menyempurnakan, dan berkolaborasi secara efektif dengan model AI generatif seperti ChatGPT, Google Gemini, atau Claude.
Hal ini menunjukkan meningkatnya permintaan akan "kefasihan AI"—kemampuan menggunakan alat AI untuk membuat spreadsheet lebih efisien, melakukan riset lebih cepat, atau menulis lebih cerdas—di seluruh departemen, melampaui karier di bidang teknologi dan teknik.
IBM juga menemukan bahwa organisasi yang berfokus pada peningkatan keterampilan memiliki probabilitas 63% lebih tinggi untuk mengungguli pesaing mereka dalam pertumbuhan pendapatan, dan 44% lebih mungkin melaporkan peningkatan kepuasan pelanggan.
Temuan optimistis ini muncul di tengah gelombang PHK besar-besaran di industri teknologi. Amazon, misalnya, baru-baru ini memangkas lebih dari 14.000 pekerjaan perusahaan. Namun, CEO Amazon Andy Jassy menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan didorong oleh AI yang menggantikan manusia.
“Ini bukan tentang biaya, dan ini bukan tentang AI,” kata Jassy.
Ia menjelaskan bahwa restrukturisasi tersebut bersifat internal, bertujuan untuk menghilangkan lapisan-lapisan yang tidak perlu agar perusahaan dapat beroperasi lebih gesit seperti perusahaan rintisan, menegaskan bahwa perubahan struktural, bukan otomatisasi, yang menjadi pendorong utama.
Bagi para pekerja, laporan ini menyarankan agar alih-alih takut kehilangan pekerjaan, fokus harus diarahkan pada peningkatan diri dan menjadikan AI sebagai mitra kerja, bukan ancaman.
Tool AI kini menjadi pelengkap sehari-hari bagi profesional di berbagai bidang, menjadikan penalaran kontekstual dan kolaborasi yang ditingkatkan AI sebagai keterampilan penting untuk berhasil di tempat kerja masa depan.
(wep)
































