Sentimen nasionalis di kawasan perbatasan—yang menjadi lokasi sejumlah kuil kuno—masih sangat kuat di Thailand dan Kamboja. Anutin menjabat sebagai perdana menteri sejak September, menggantikan Paetongtarn Shinawatra yang dicopot oleh Mahkamah Konstitusi setelah mendapat kritik karena ucapannya kepada mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen, yang dinilai menyalahkan militer Thailand.
Sikap cepat Anutin dalam menegaskan kedaulatan Thailand dinilai dapat memperkuat posisinya serta partainya, Bhumjaithai, yang berhaluan konservatif dan berupaya memanfaatkan sentimen nasionalis untuk meraih dukungan dalam pemilu yang diperkirakan digelar awal tahun depan.
“Ada potensi keuntungan dari membangkitkan semangat nasionalisme di dalam negeri, terutama karena basis kekuatannya berada di provinsi perbatasan,” ujar Titipol Phakdeewanich, dosen ilmu politik di Universitas Ubon Ratchathani.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memimpin upacara deklarasi damai antara Anutin dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet di Kuala Lumpur pada 26 Oktober. Kesepakatan tersebut menetapkan langkah konkret bagi kedua negara untuk menarik senjata berat dari sepanjang perbatasan mulai 1 November, sebagai upaya meredakan ketegangan yang sempat memicu bentrokan berdarah selama lima hari pada Juli lalu.
Titipol menambahkan bahwa Anutin perlu lebih berhati-hati dengan ucapannya ke depan, meski mempertahankan sikap tegas dalam isu perbatasan tetap penting bagi kepentingan politiknya.
“Hal ini bisa menjadi salah satu faktor utama yang membantunya menang dalam pemilu berikutnya,” ujar Titipol.
(bbn)
































