Logo Bloomberg Technoz

“Selama replanting memang akan ada penurunan produksi, tapi ini hanya jangka pendek. Bagi saya, jangka pendek ini tidak masalah karena replanting adalah komitmen jangka panjang. Menunda replanting karena harga tinggi justru akan berdampak ke masa depan,” ujarnya. 

Replanting menjadi pekerjaan besar yang tidak hanya menyedot investasi, tetapi juga berpotensi menekan produksi jangka pendek. Setiap hektare yang ditebang berarti kehilangan tandan buah segar (TBS) hingga empat tahun sebelum pohon baru kembali berbuah. 

Menurutnya, penurunan produksi sementara dapat diimbangi dengan pembelian tandan buah segar (TBS) dari petani sekitar agar tingkat utilisasi pabrik tetap terjaga.

“Kita offset dengan pembelian buah dari petani. Secara finansial, biaya replanting ini juga lebih rendah, dan produktivitas secara keseluruhan bisa tetap terjaga,” kata Djap.

Perkebunan Astra Agro Lestari (AALI)Foto: Artha Adventy

Ia menjelaskan, kriteria kebun yang diremajakan adalah tanaman yang sudah tua dan produktivitasnya jauh di bawah rata-rata nasional. Pohon-pohon tua itu digantikan dengan bibit unggul hasil riset internal yang dinilai lebih efisien dalam penggunaan pupuk dan memiliki potensi hasil panen lebih tinggi.

“Bibit yang digunakan untuk replanting itu unggul, sehingga nanti siklus produksinya lebih panjang dan kebutuhan pupuk lebih sedikit. Karena itu, research and development jadi sangat penting,” tambahnya.

Strategi Pakai 3 Bibit Sawit Sendiri 

Pada 2020, Astra Agro memperkenalkan tiga varietas kelapa sawit unggulan hasil riset internal, AAL Lestari, AAL Sejahtera, dan AAL Nirmala, yang dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas tanpa menambah luas areal tanam.

Lima tahun kemudian, pada 2025, perusahaan kembali meluncurkan generasi terbaru bibit unggul bertajuk DxP AAL Nirmala MRG, DxP AAL Lestari MRG, dan DxP AAL Sejahtera MRG. Varietas ini membawa penyempurnaan genetik sekaligus ketahanan terhadap penyakit ganoderma, salah satu momok terbesar dalam industri perkebunan sawit.

Direktur AALI Bandung Sahari mengatakan 3 bibit itu diproyeksikan dapat menghasilkan TBS hingga 30 ton dalam satu hektare lahan. 

“Kita sudah panen perdana di Sumatera, kalau di sini [Kalimantan Tengah] tunggu replanting,” kata dia. 

Mengutip laporan tahunan 2024, AALI menargetkan luas areal tanam kelapa sawit mencapai 284.831 ha, yang tersebar di tiga wilayah utama operasional perseroan di 2025. Dari jumlah tersebut, 104.376 ha berada di Sumatra, 130.043 ha di Kalimantan, dan 50.412 hektare di Sulawesi.

Dari kebun inti dan plasma, Astra Agro menargetkan total produksi tandan buah segar mencapai 3,85 juta ton dengan yield atau produktivitas kebun inti sekitar 16,2 ton per hektare. Sementara itu, produksi crude palm oil (CPO) sepanjang tahun dipatok mencapai sekitar 1,2 juta ton. 

Hingga semester I-2025, AALI mencatat produksi TBS mencapai 1,49 juta ton dengan total CPO sebesar 601.000 ton. Sementara itu, produksi kernel sawit hingga paru pertama tahun ini mencapai 125.000 ton.

(dhf)

No more pages