Di sisi lain, arus jual yang meningkat di Bursa Saham, turut tersengat pula pada pasar surat utang. Yield SUN kebanyakan bergerak naik sepanjang hari ini, mengindikasikan tekanan pada harga Surat Utang Negara.
Sampai penutupan pasar saham hari ini, melansir OTC Bloomberg pukul 16:10 WIB kebanyakan tenor SUN mencatat lonjakan yield terutama untuk tenor pendek–menengah.
Yield 1Y naik hingga 2,5 basis poin ke level 4,781%. Lalu tenor 5Y juga naik 0,9 basis poin ke level 5,413%. Sementara tenor menengah 8Y naik 0,3 basis poin ke posisi 5,968%, menyusul tenor 10Y mencatat kenaikan 0,3 bps menjadi level 5,998%.
Padahal mayoritas mata uang utama Asia berhasil menghijau. Hanya peso, dan rupee yang masih terdampar di jalur merah.
Won Korea Selatan menjadi mata uang terkuat di Benua Kuning mencapai penguatan 0,42%. Disusul oleh dolar Taiwan, yuan offshore, ringgit Malaysia, yuan China, baht Thailand, dolar Singapura, yen Jepang, dan dolar Hong Kong, yang masing–masing berhasil menguat 0,34%, 0,25%, 0,23%, 0,22%, 0,18%, 0,11%, 0,03%, dan 0,03%.
Pasar Asia sedang semringah dan berani mengambil risiko seiring mood yang membaik.
Antusiasme pelaku pasar datang dari kabar membaiknya relasi AS-China. Delegasi kedua negara telah bertemu dan berdialog di Malaysia akhir pekan lalu. Hasilnya cukup impresif dan kesepakatan bakal diteken oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
“Saya rasa ancaman tarif 100% sudah pergi, begitu juga dengan ancaman kontrol ekspor China,” ungkap Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam interviu dengan CBS News, melansir Bloomberg News.
Trump sendiri sudah memperkirakan akan ada kesepakatan dengan China. Di sela-sela lawatan di Malaysia untuk menghadiri KTT ASEAN, Trump mengungkapkan akan ada pertemuan level kepala negara.
“Mereka mau membuat kesepakatan, kami juga mau membuat kesepakatan,” jelasnya, sebagaimana diberitakan Bloomberg News.
Kyle Rodda, Senior Market Analyst di Capital.com, menyebut kesepakatan ini akan berdampak positif bagi pasar keuangan Asia, khususnya China. Terutama jika AS kemudian menurunkan tarif bea masuk atas produk-produk made in China.
“Jika kesepakatan komprehensif berhasil tercapai, maka dampaknya akan lebih cepat dari perkiraan. Situasi akan bagus,” tegas Rodda, dari Bloomberg News.
(fad/aji)































